Akurat Logo

Bahaya Laten AI Dapat Mewarnai Hoaks di Pilpres 2024, Masyarakat Diminta Jeli Membedakan Video Palsu

Citra Puspitaningrum | 28 Oktober 2023, 15:41 WIB
Bahaya Laten AI Dapat Mewarnai Hoaks di Pilpres 2024, Masyarakat Diminta Jeli Membedakan Video Palsu

AKURAT.CO - Artificial Intelligence (AI) dapat mewarnai hoaks di pilpres 2024. Hal itu disampaikan oleh Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dalam kuliah umum Political Marketing Mini MBA yang digelar di kantor LSI, Jakarta, Sabtu 28 Oktober 2023.

Kuliah umum ini digelar dalam rangka memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya pemasaran dalam konteks demokrasi modern. Denny JA memulai kegiatan ini dengan menampilkan siaran video Jokowi yang fasih berbahasa Mandarin. Ternyata itu adalah produk deepfake technology.

Mengutip dari Reuters News, Denny JA menyoroti fenomena global di mana telah beredar 500.000 video dan audio palsu alias deepfake sepanjang tahun 2023.

Menurut dia, video dan audio palsu yang bermunculan lewat kecanggihan AI sangat mengkhawatirkan. Khususnya dalam konteks Pilpres 2024 yang semakin dekat.

Kekhawatiran itu muncul, lanjut dia, karena AI semakin mudah digunakan untuk memproduksi video palsu yang tampak sangat meyakinkan, ini pun pernah terjadi di Pilpres Amerika Serikat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa, banyak publik tidak dapat membedakan video asli dan palsu, karena deepfake teknologi yang dapat menirukan suara, wajah, dan mimik wajah dengan sangat baik.

"Perbedaannya hanya terletak pada gerakan bibir dan pesan yang dimanipulasi," kata Denny JA.

Baca Juga: Tren Live E-Commerce Pakai Streamer AI, Peran Manusia Semakin Memudar?

Denny J.A mengatakan, video palsu Jokowi merupakan awal dari gelombang video palsu yang akan datang. Ia menekankan, video yang dibuat oleh AI itu sangat sulit untuk dibedakan.

"AI semakin canggih dalam menciptakan hoaks yang semakin sulit dikenali," ujar Denny JA.

Oleh karena itu, sebagai solusi, Denny JA memberikan tiga tips penting kepada masyarakat yang harus menjadi perhatian penting.

Pertama, hanya menyebarkan berita berdasarkan sumber yang kredibel. "Hanya menyebarkan berita dari sumber media yang telah membangun reputasi kredibel dan memilii filter untuk membedakan hoaks dan fakta," kata Denny JA.

Tips kedua, sambungnya, memperbanyak cek fakta. Menurutnya, hal ini sangat penting dilakukan di era perkembangan teknologi yang begitu cepat. "Meningkatkan sumber-sumber cek fakta, termasuk yang disediakan oleh media besar dan pemerintah, untuk memverifikasi berita-berita viral," ujar Denny JA.

Ketiga, yakni kerja sama dengan lembaga cek fakta. Disampaikan Denny JA, platform media sosial harus bekerja sama dengan cek fakta. "Platform media sosial, seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp, harus bekerjasama dengan lembaga cek fakta untuk memfilter hoaks," terang Denny JA.

Selain membahas topik tentang AI, Denny JA juga menjelaskan isu-isu kunci dalam pilpres menggunakan teori yang ia ciptakan dan tulis dalam bukunya yang berjudul "Membangun Legacy, 10 P untuk Marketing Politik: Teori dan Praktik."

Baca Juga: 5 Aplikasi AI Untuk Review Jurnal Ilmiah, Meringkas Jadi Lebih Mudah

Selain kuliah umum, pada acara yang sama juga digelar talksow guest lecture bersama Sunarto Ciptoharjono, Ketua Umum Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI) yang menjelaskan peran penting lembaga survei dalam demokrasi dan memberikan panduan tentang cara membedakan lembaga survei kredibel dari yang tidak kredibel.

Program Mini MBA Political Marketing ini merupakan satu-satunya program yang memberikan materi komprehensif, tidak hanya dari teori tetapi juga implementasi dalam isu-isu politik yang aktual.

Sebagai tambahan, Kuliah umum ini digelar sebagai hasil kerjasama antara LSI Denny JA, Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dan Kuncie dan merupakan bagian dari program Executive Education: Mini MBA Political Marketing.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.