DPR Kritik Status Presidensi G20 Indonesia: Percuma, Visa Masih Ngemis

AKURAT.CO Status Presidensi G20 Indonesia dianggap sia-sia oleh DPR. Pasalnya, status keketuaan tersebut tak membuat Indonesia memiliki pengaruh yang bisa dilihat dari sulitnya menerima visa berkunjung ke Eropa.
Wakil Ketua Komisi I DPR, Utut Adianto, menyampaikan kritik ini secara langsung kepada Menlu Retno Marsudi. Utut mengeluhkan, status Presidensi G20 Indonesia hanya terdengar bergengsi, namun di lapangan tak membawa pengaruh apapun.
“Kita ini presiden G20 lalu, itu Bu Menlu membangga-banggakan, tentu kita bangga, tetapi fakta lapangannya apa kepresidensian itu? Setiap minta visa kita ke Eropa tuh susahnya setengah mati, betul enggak?" tanya Utut, kepada Menlu Retno, dalam rapat kerja di Komisi I DPR, Jakarta, Senin (2/10/2023).
Baca Juga: Jadi Tuan Rumah KTT G20 2023, Ini Fakta Menarik Tentang India
Retno membenarkan pertanyaan Utut. Namun jawabannya tak menyenangkan legislator asal Bali itu.
"Kok betulnya pelan? Saya ikutan gayanya Ibu Mega (Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri) saja, kok betulnya pelan?,” lanjutnya.
Indonesia menyandang status Presidensi G20 mulai dari 1 Desember 2021 hingga 30 November 2022. Namun selama periode tersebut, Indonesia dianggap tak bisa memanfaatkan status keketuaan untuk memudahkan masyarakat.
Baca Juga: Prancis Teken Investasi Untuk IKN Di KTT G20 India
“Harusnya ketika kita Presiden G20, ngomong ‘gua presidennya’, tapi minta visa setengah mati, atlet mau pergi, last minute dikasih. Minta visa dimintai rekening koran tiga bulan terakhir itu aneh, itu hanya orang yang terindikasi crime, maling, itu baru dimintai, bisa. Masak dimintai rekening koran?” keluhnya.
Tak cukup di situ, Utut juga mengeluhkan jargon "Recover Together, Recover Stronger’ dari Presidensi Indonesia. Jargon tersebut dianggap sebatas kiasan.
“Mohon nanti kalau Presiden G20, jangan kata-kata terus, ‘Recover Stronger’, recover apa, preketek-preketek, ‘Recover Together’, ‘Asian Summit’, ‘Efisien Term of Groot’, lah kita groot sendiri saja susah, malah mau epicentrum,” beber Utut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








