Akurat Logo

5 Keunikan Masjid Agung Demak, Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Pulau Jawa

| 12 Januari 2020, 12:25 WIB
5 Keunikan Masjid Agung Demak, Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Pulau Jawa

AKURAT.CO, Berbicara tentang sejarah Islam di Indonesia, kita pasti akan teringat bangunan-bangunan yang dulunya menjadi pusat penyebaran agama Islam. Salah satu bangunan yang sangat bersejarah dan masih kokoh hingga saat ini adalah Masjid Agung Demak.

Masjid ini didirikan oleh Raden Patah sekitar tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi yang kemudian menjadi pusat berkumpulnya Wali Songo. Ketika kita sedang berkunjung ke Kota Demak, tidak lengkap rasanya jika tidak berkunjung ke masjid yang berada di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak ini. Sebab selain untuk beribadah, masjid ini juga menyuguhkan pengetahuan tentang sejarah Islam saat disebarkan di Pulau Jawa.

Diolah dari berbagai sumber, Masjid Agung Demak ini memiliki berbagai keunikan yang tidak dimiliki oleh masjid-masjid lainnya di Indonesia. Di antaranya adalah:

1. Pusat penyebaran Islam di Pulau Jawa

Dalam Babad Tanah Jawa diceritakan bahwa masjid ini dibangun oleh Raden Patah yang ketika itu berada di lingkungan agama Hindu. Oleh sebab itu, Wali Songo kerap berkumpul di masjid ini dan mendiskusikan bagaimana cara mendakwahkan Islam di Pulau Jawa.

2. Atapnya bercorak Hindu

Karena persinggungan Islam dengan agama Hindu yang lebih dahulu ada, maka masjid ini disesuaikan dengan model arsitektur khas agama Hindu. Atap masjid ini terdiri dari tiga tingkat yang melambangkan tiga aspek yakni Iman, Islam dan Ihsan.

Akulturasi budaya ini menunjukkan betapa bijaknya pendakwah Islam kala itu yang mampu membaur dengan masyarakat Hindu. Konon, salah satu dari tiga tingkatan atap itu terbuat dari intip (kerak nasi) yang dibuat oleh Sunan Kalijaga.

3. Tiang penyangga dari tatal sisa ketaman

Sekilas memang tiang yang menyangga masjid ini terlihat seperti tiang pada umumnya. Tiang atau yang juga disebut saka ini menurut cerita yang berkembang dibuat oleh empat wali yakni Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Uniknya, tiang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga berbahan dasar tatalan kayu (serpihan kayu) yang tidak utuh. Serpihan itu dikumpulkan oleh Sunan Kalijaga dan disatukan membentuk kayu utuh dan bertahan kuat hingga saat ini.

4. Pintu petir

Dalam istilah Jawa, pintu ini sering disebut sebagai pintu bledek. Dikisahkan, pintu bledek ini merupakan karya Ki Ageng Selo yang merupakan wali penangkap petir sekitar tahun 1446 Masehi.

Keunikan dari pintu ini adalah terbuat dari kayu jati dan dipenuhi ukiran-ukiran indah sarat makna. Ukiran yang paling menyita perhatian adalah dua kepala naga yang dalam budaya Jawa menjadi simbol Condro Sengkolo (penanda waktu) yang berbunyi "Nogo Mulat Saliro Wani."

5. Tempat wudu

Bagian terpenting dalam sebuah bangunan masjid adalah tempat wudu yang digunakan untuk menyucikan diri. Di Masjid Agung Demak, terdapat tempat wudu bersejarah berbentuk sebuah kolam sedalam lima meter dengan tiga batu hitam yang berbeda ukuran.

Dahulu, kolam tersebut merupakan tempat para Wali Songo wudu, namun saat ini tidak lagi difungsikan dan dimuseumkan oleh pengelola masjid.

Nah itu dia beberapa keunikan Masjid Agung Demak yang wajib kita kunjungi saat ke Kota Wali tersebut. Wallahu a'lam.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.