Anak Muda Mainkan Peran Utama dalam Dinamika Demokrasi di Ruang Digital

AKURAT.CO Data CIVICUS Monitor mencatat ranking demokrasi di Indonesia sebesar 48 dari 100. Artinya, berada pada kategori Obstructed (Terhalang).
Merespons hal itu, Dr. Muhammad Fajar selaku Peneliti Utama Understanding Youth Engagement and Civic Space in Indonesia, mengeksplorasi bagaimana orang muda memahami pelemahan demokrasi, merasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari dan merumuskan strategi sosial politik dalam penyempitan ruang sipil. Melalui risetnya yang berlangsung mulai November 2024 hingga Februari 2025.
"Terdapat dua literatur teoritik yang menjadi landasan studi ini. Dua di antaranya adalah pandangan kejelasan yang sifatnya elitis dan pandangan yang berfokus pada kelompok masyarakat," kata Fajar, saat memaparkan hasil risetnya di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Menurut dia, temuan kunci dari riset kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling adalah persepsi pemuda terhadap ruang sipil sangat bervariasi. Perbedaan antarwilayah dan pendapatan juga sangat berpengaruh terhadap persepsi pemuda di ruang sipil.
"Namun, secara keseluruhan membuktikan pengalaman sosial ekonomi mempengaruhi anak muda dalam menilai ruang sipil saat ini," kata Fajar.
Baca Juga: KPU Dorong Kolaborasi dengan Bawaslu dan DKPP Bangun Peta Demokrasi Baru
Hasil riset kualitatifnya mencatat empat poin penting. Pertama, Awareness of Shirking Civic Space, perasaan aman dan tidak aman yang dialami organisasi/kelompok sosial dalam ruang sipil dipengaruhi oleh sejauh mana kedekatan dan keterlibatan mereka dengan pemerintah. Semakin jauh organisasi dengan pemerintah, mereka semakin merasa tidak aman.
"Kedua, Needs and Expectations, pemerintah memiliki keharusan dalam menjamin dan memenuhi hak-hak politik dan sipil. Ketiga, Hopes in the Government, organisasi/kelompok sosial saat ini masih terbagi menjadi dua kubu, yaitu kelompok/organisasi yang mengharapkan intervensi dari pemerintah dan kelompok/organisasi yang menentang pemerintah," jelas Fajar.
"Keempat, Strategies to Counter Democratic Backsliding, menghadapi kemunduran demokrasi, kita harus menggandeng energi progresif anak muda, memperkuat organisasi sebagai ruang belajar, dan memperluas jejaring," sambungnya.
Senada, Co-Founder dan Executive Director Yayasan Partisipasi Muda, Neildeva Despendya, yang ikut dalam sesi pemaparan riset, mengatakan bahwa ruang sipil seharusnya menjadi pondasi demokrasi saat ini.
"Ada lima indikator civil society bisa dikatakan sehat. Pertama, kebebasan berasosiasi, kebebasan untuk berkumpul dan kebebasan berekspresi. Kedua, peran negara dalam melindungi hak-hak fundamental, ruang publik untuk kegiatan sosial, politik dan budaya. Ketiga, lingkungan yang mendukung diskusi dan keberagaman pendapat. Keempat, kebebasan untuk mengkritik dan menyampaikan pandangan baik secara daring maupun luring. Kelima, kebebasan untuk mengkritik dan menyampaikan pandangan baik secara daring maupun luring," Neildeva memaparkan.
Baca Juga: Bebas Tapi Tidak Merdeka, Tantangan Mewujudkan Demokrasi di Indonesia
Menurutnya, hambatan bagi orang muda bukanlah soal ruang, melainkan hambatan struktural seperti risiko hukum, keamanan daring dan lemahnya institusi.
"If civic space turns toxic, forget about living the life we deserve," ucap Neildeva.
Sementara itu, Dekan FISIP Unhas, Prof. Sukri, menyatakan bahwa pemuda saat ini berada dalam era digital. Sehingga nilai-nilai yang membatasi akan semakin banyak dalam sehari-harinya.
"Era digital ini, Generasi Z menjadi aktor baru yang memperluas ruang sipil ke ranah virtual (digital civic space). Kebebasan individu kini bertransformasi menjadi kebebasan berekspresi digital, sedangkan kontrol negara hadir melalui regulasi siber dan sistem informasi," katanya.
Prof. Sukri mengungkap bahwa ruang sipil yang modern mencerminkan pergeseran kekuasaan dari institusi ke jaringan yang meletakkan generasi muda sebagai salah satu penggerak utama perubahan politik kultural. Sebab, kebebasan dalam ruang sipil bergantung pada kesepakatan bersama.
Baca Juga: Puan Maharani: Sumpah Pemuda Momentum Refleksi Peran Generasi Muda dalam Menjaga Demokrasi
"Temuan riset (dari Dr. Muhammad Fajar) menunjukkan bahwa aktivitas sosial informal seperti kegiatan komunitas, bantuan sosial, relasi langsung lebih efektif daripada politik formal. Selain itu, teori lama tentang rational voter nampaknya mulai tergser oleh realitas baru yakni emotional voter dan identity-driven participation di kalangan pemuda," jelasnya.
"Ruang sosial dan digital kini menjadi medan politik utama bagi generasi muda," sambung Prof. Sukri, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang








