Akurat Logo

Alasan Ilmiah Mengapa Indonesia Tidak Mengalami Fenomena Aurora Borealis

Azhar Ilyas | 15 Oktober 2024, 00:00 WIB
Alasan Ilmiah Mengapa Indonesia Tidak Mengalami Fenomena Aurora Borealis

AKURAT.CO Aurora borealis, atau yang sering disebut sebagai cahaya utara, adalah fenomena alam menakjubkan yang terjadi ketika partikel bermuatan dari matahari berinteraksi dengan medan magnet Bumi di atmosfer bagian atas.

Interaksi ini melepaskan energi dalam bentuk cahaya, memancarkan warna-warna indah seperti hijau, merah, dan ungu.

Untuk menyaksikan pertunjukan cahaya kosmik ini, diperlukan kondisi yang sangat spesifik, yaitu berada di wilayah dengan garis lintang tinggi, baik di belahan Bumi utara maupun selatan.

Menurut laman Space, aurora terjadi ketika partikel bermuatan dengan energi tinggi dari matahari bertabrakan dengan atmosfer atas Bumi pada kecepatan hingga 72 juta km per jam.

Baca Juga: Prabowo Subianto Panggil 40 Tokoh untuk Kabinet 2024-2029: Tidak Semua Terpilih!

Energi ini mempengaruhi elektron dalam partikel tersebut, mengangkatnya ke tingkat energi yang lebih tinggi.

Namun, kemungkinan melihat aurora di Indonesia sangat kecil. Ini karena di sekitar garis khatulistiwa, medan magnet hampir sejajar dengan permukaan Bumi, sehingga aurora lebih terkonsentrasi di dekat wilayah kutub.

Dengan posisi geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa, fenomena aurora tidak dapat terlihat di negara ini.

Aurora tampak seperti pita cahaya yang bergerak sebagai respons terhadap medan magnet Bumi.

Sebagai tambahan informasi, medan magnet Bumi terpusat di kutub utara dan kutub selatan. Aurora yang terjadi di kutub utara disebut Aurora Borealis, sementara di kutub selatan dikenal sebagai Aurora Australis.

Baca Juga: Menpora Dito Harap Semangat Inklusifitas yang Telah Dibangun Tidak Terputus

Negara-negara di belahan Bumi utara adalah lokasi terbaik untuk menyaksikan aurora borealis tahun ini, termasuk Norwegia, Swedia, Finlandia, Greenland, Islandia, Kanada, dan Amerika Serikat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.