Akurat

Pertama Kali Dalam Sejarah, Pemilu Didominasi 52 Persen Pemilih Muda

| 10 Juli 2023, 11:28 WIB
Pertama Kali Dalam Sejarah, Pemilu Didominasi 52 Persen Pemilih Muda

AKURAT.CO Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, pemilihan umum (pemilu) akan didominasi oleh generasi muda usia 17-40 tahun sebanyak 52 persen dari total pemilih.

Jumlah keseluruhan pemilih untuk Pemilu 2024 yang akan diadakan pada 14 Februari 2024 mendatang adalah 204.807.222, dengan kata lain 75,5 persen dari total populasi warga Indonesia yang berjumlah 271,35 juta. Jumlah pemilih tahun Pemilu 2024 nanti mencapai hampir dua kali lipat dari Pemilu 1999.

Jumlah Pemilih Pemilu Setelah Reformasi

  • 1999, 118.158.778 pemilih
  • 2004, 148.000.369 pemilih
  • 2009, 171.068.667 pemilih
  • 2014, 190.307.134 pemilih
  • 2019, 190.779.969 pemilih
  • 2024, 204.807.222 pemilih

Pemilih muda yang biasanya dikatakan sebagai youth bonus akan mempunyai peran yang jauh leih penting karena memiliki lebih dari setengah total suara. Bisa dikatakan, siapapun yang memenangkan hati pemilih muda akan dapat memenangkan Pemilu 2024.

Untuk itu, ada beberapa tendensi pemilih muda yang harus diperhatikan karena hal ini lumayan kontras dengan pemilih berumur seperti loyalitas partai, prioritas isu, dan penggunaan media. Penelitian ini sendiri dilakukan pada 21 negara dengan rentang waktu sejak tahun 1948 hingga 2019.

Tendensi pemilih muda

  • Loyalitas partai

Generasi muda dianggap sebagai young trendsetter yang berpolitik tidak dengan cara lama, di mana pemilih itu loyal dengan partainya. Sebagai contoh, ingatkah kamu sempat ada orang yang nyaleg lewat dua partai?

  • Prioritas isu

Pemilih muda lebih tertarik akan isu yang lebih segar. Pembangunan infrastruktur dianggap sebagai bare minimum yang tidak perlu dibikin janji politik, memang harus dilakukan.

  • Penggunaan media

Kampanye di media sosial mungkin akan lebih ramai. Digital presence politisi akan menentukan elektabilitas dan favorabilitasnya.

Mesti diakui terlebih dahulu kalau partisipasi politik generasi muda cenderung rendah apabila dilihat secara konvensional. Hal ini didasari atas minimnya informasi dan media yang ramah untuk dikonsumsi meski antusiasmenya tinggi. Contohnya, kalau ngomongin soal pemilu legislatif, kebanyakan dari kita pun pasti tidak tahu apa yang ditawarkan para calon anggota legislatif (caleg).

Pemilih muda akhirnya membentuk masyarakat baru di ruang publik digital dan partisipasi politik lewat hal ini yang harus ditingkatkan. Sudah bukan waktunya lagi untuk melakukan seminar, penyuluhan atau kampanye formal di kerumunan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.