Cerita Peserta Tabligh Akbar Gowa Saat Diisolasi: Dikucilkan Warga Hingga Bantuan Tak Masuk Akal

AKURAT.CO, Gugus Tugas Percepatan Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengisolasi setidaknya sekitar 30 orang yang merupakan peserta tabligh akbar klaster Gowa, Sulawesi Selatan. Beberapa diantara mereka diisolasi di Rumah Jabatan Bupati Ende sejak 2 Mei 2020 lalu. Namun selama menjalani hingga usai masa karantina, pribadi mereka dan keluarga di rumah masih saja dikucilkan oleh warga.
Kebijakan untuk mengisolasi puluhan orang itu diawali dengan ditemukannya lima orang dari peserta eks tabligh akbar yang dinyatakan reaktif ketika dilakukan rapid test pada 2 Mei 2020 di Stadion Marilonga Ende.
Salah satu dari peserta itu dan juga pasien isolasi di Rumah Jabatan Bupati Ende, sebut saja namanya Abang, menceritakan tentang beberapa pengalamannya. Yakni sejak pulang dari Gowa, isolasi mandiri, diisolasi di fasilitas pemerintah, hingga dipulangkan lagi ke rumah.
Abang mengaku bahwa mereka tiba di Ende pada 23 Maret 2020 lalu, dan baru menjalani rapid test setelah sekira puluhan hari sejak tiba di Ende.
"Jadi ketika kami kembali dari Gowa, sesuai arahan para petua di sana (Gowa), untuk kami mendatangi Puskesmas. Kami juga diperiksa ketika tiba (di Ende), kami juga melakukan karantina mandiri 14 hari lamanya," kata Abang saat dihubungi AKURAT.CO, dari Jakarta, Sabtu (16/5/2020) malam.
Setelah melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari, Abang beserta teman-temannya pun kembali beraktivitas seperti biasa. Ada yang kembali menarik ojek, berdagang, ada juga yang kembali ke rutinitas kantoran.
Tapi tiba-tiba lanjut Abang, pada tanggal 23 Maret 2020, ada petugas berwenang yang datang dan meminta mereka untuk menjalani rapid test. Belum dikasih tahu hasil rapid test, dia bersama beberapa teman pun diisolasi di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Ende. Beberapa diantara mereka yang juga belum diketahui rapid test-nya pun diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende.
"Ada beberapa teman kami di RSUD. Ada juga di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Ende. Kebetulan juga Rujabnya kan sudah lama tidak dipakai. Karena mendiang Bupati yang lama kan meninggal dan digantikan sama wakilnya yang sekarang ini," jelas Abang.
Namun demikian, selama diisolasi, Abang mengaku merasa tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Dengan terisak, Abang pun menceritakan bahwa mereka masih kebingungan atas status yang kurang jelas. Sebab, untuk sekedar memberikan informasi pun, para pejabat atau bahkan aparatur pemerintah biasa tak ada yang mau mendatangi. Padahal mereka sama sekali belum tahu hasil dari rapid test yang telah dijalani.
Alhasil, mereka pun hanya mendapat informasi yang simpang siur mengenai kondisi mereka yang sudah dua kali melakukan rapid test. Yang pertama ketika awal isolasi dan kedua ketika menjalani isolasi.
Akibat tidak adanya informasi yang resmi dari pemerintah mengenai kondisi mereka, Abang dan teman-temannya pun mencari informasi sendiri. Utamanya dari media sosial. Ujung-ujungnya, informasi yang mereka terima dari medsos malah membuat kepanikan di kalangan mereka.
"Kami merasa seperti yang melakukan kejahatan yang luar biasa sehingga tidak ada satupun pejabat yang mau menemui kami untuk memberi tahu informasi bagaimana hasil dari pada rapid test kami seperti apa. Malah kami dapat informasi dari luar dari sosial media dari istri. Yah kepanikan itu ga bisa terbendung di kalangan keluarga kami, akhirnya terjadi percekcokan," sesal Abang dengan nada yang sendu.
"Kemudian, saya pun mencoba menggali perasaan mereka yang di isolasi hingga kini sebab kebanyakan dari mereka bahkan hingga seluruhnya merupakan tulang punggung dari keluarga yang memiliki kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan pokok rumah untuk istri, anak, saudara, orang tua dan sebagainya," lanjutnya.
Benar saja, Abang menceritakan bahwa kebanyakan dari mereka merupakan masyarakat yang tergolong dalam ekonomi lemah. Yakni diantaranya ada yang menjadi tukang ojek, pedagang kecil di pasar dan nelayan.
Meski demikian, Abang menegaskan bahwa mereka tak masalah dengan kebijakan pemerintah yang mengisolasi. Hanya saja, ada suatu hal yang menjadi beban pikiran Abang dan teman-temannya. Yakni, keluarga di rumah yang juga diperlakukan warga bak penjahat. Konkretnya yakni keluarga mereka juga dikucilkan masyarakat.
Menurut Abang, para keluarga dari pasien isolasi itu dikucilkan lantaran informasi simpang siur yang tidak di cover oleh pemerintah. Alhasil, keluarga teman dia yang berprofesi sebagai pedagang pun harus gigit jari karena tak ada masyarakat yang mau membeli. Bahkan, ada pula yang anak-anak mereka tak diizinkan bergabung dengan anak lain.
Padahal, menurut Abang, mereka yang di isolasi pada Rumah Jabatan Bupati Ende itu statusnya non-reaktif Virus Corona.
Abang kemudian menceritakan tentang kondisi tempat mereka di isolasi. Mereka, 30 orang eks peserta Tabligh Akbar Klaster Gowa itu tidur dengan tandu tentara di satu tempat yakni, aula terbuka Rumah Jabatan Bupati Ende. Disana kata dia ada banyak nyamuknya.
"Kami disini masih bisa bertahan dengan segala macam keadaan, digigit nyamuk dapat tempat tidur gak layak, segala macam, kami masih bisa bertahan. Tapi, bagaimana keluarga kami di luar begitu?" ujarnya.
Bantuan Sosial Pemerintah Tak Masuk Akal
Abang dan teman-temannya sesungguhnya merupakan kepala keluarga, mereka menjadi tulang punggung. Makanya, ketika mereka diisolasi sebagaimana keinginan pemerintah, para keluarga pasien itu seharusnya mendapatkan bantuan sosial berupa sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, sayangnya dalam praktiknya, kata Abang, menurut pengakuan dari keluarga yang berada di rumah, bantuan sembako diberikan pemerintah hanya sekali. Isinya yakni beras sebanyak 3 Kilogram, Gula Pasir sebanyak 1/2 Kilogram, 2 bungkus mie instan, dan 1 liter minyak goreng.
Menurut mereka, bantuan sembako yang diberikan pemerintah itu jauh dari kata mencukupi untuk keluarga para pasien isolasi yang ditinggalkan mereka di rumah. Sebab anggota keluarga mereka rata-rata berjumlah banyak.
Tutupi Galau Kondisi Keluarga Dengan Ibadah
Bulan Suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah, Abang dan teman-teman senasibnya pun menguatkan diri dengan beribadah seperti biasa. Termasuk menjalankan ibadah puasa.
Kemudian, untuk menenangkan hati dan pikiran serta tekanan yang dialami oleh mereka akibat kondisi yang penuh dengan ketidakpastian dan kegalauan selama isolasi. Mereka mengisi kegiatannya selama isolasi dengan kegiatan-kegiatan agama dan berdoa. Kebanyakan dari isi doa mereka adalah semoga keluarga di rumah tetap dalam lindungan Allah selama wabah Covid-19 ini.
Perlu diketahui, Abang dan beberapa temannya kini telah pulang ke rumah masing-masing. Namun pengakuan dia, hingga saat ini pihaknya dan keluarga masih dikucilkan oleh warga.
Maka dari itu, Abang pun meminta pemerintah untuk memberikan pengertian kepada warga Kota Ende bahwa dirinya beserta beberapa teman-teman yang telah pulang terbebas dari Covid-19.
"Sekarang saya dan beberapa teman sudah pulang ke rumah. Tapi sampai sekarang warga masih mengucilkan kami dan keluarga. Minta tolong ke pemerintah supaya kasih pengertian ke warga kalau kami tidak ada Covid-19," harapnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 3Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 4Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 7FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 8Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 9Dana Reses dari Fee Percepatan Haji, BAP Gus Alex Ungkap Permintaan Pimpinan Komisi VIII
- 10PAN Potong Gaji Anggota Dewan, Rp8 Miliar Terkumpul untuk Bantu Korban Bencana




