6 Fakta Mochtar Riady, Pendiri Lippo Group yang Menaungi Megaproyek Meikarta

AKURAT.CO Nama Mochtar Riady beserta Lippo Group, grup perusahaan yang didirikannya, turut mencuat bersamaan dengan ramainya pemberitaan megaproyek Meikarta yang mangkrak. Pasalnya, Meikarta adalah proyek di bawah naungan Lippo Group.
Proyek Meikarta sedang menjadi perbincangan usai para pembelinya memprotes tidak kunjung mendapatkan unit yang telah dijanjikan sejak 2019.
Sekitar 100 orang yang tergabung dalam Perkumpulan Komunitas Peduli Konsumen Meikarta (PKPKM) berunjuk rasa di depan Gedung MPR/DPR/DPD Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (5/12/2022). Pengunjuk rasa menuntut ganti rugi meminta uang mereka dikembalikan.
Lalu, seperti apa sosok Mochtar Riady? Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO merangkum fakta mengenai Mochtar Riady.
1. Anak seorang pedagang batik
Mochtar Riady lahir di Malang, Jawa Timur pada 12 Mei 1929. Ayahnya merupakan pedagang batik bernama Liapi, sedangkan ibunya bernama Sibelau.
Semasa muda, Mochtar Riady ikut berjuang melawan penjajah. Hingga pada tahun 1947, ia ditangkap Pemerintah Belanda dan dibuang ke China.
Di China, dirinya memutuskan untuk mengemban studi di Universitas Nangking dengan jurusan di bidang filosofi. Mochtar Riady tinggal di Hong Kong sampai tahun 1950 sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Indonesia.
2. Bercita-cita jadi bankir
Mochtar Riady sudah bercita-cita menjadi seorang bankir sejak masa kecilnya. Hal ini disebabkan karena saat dirinya berangkat sekolah, ia selalu melewati gedung megah yang merupaakan kantor Nederlandsche Handels Bank (NHB). Para pegawai bank yang berpakaian rapi dan terlihat sibuk juga semakin memantik hasrat Riady menjadi bankir.
Tetapi, ayah Riady tidak merestuinya. Menurut sang ayah, profesi bankir hanya bagi orang berada saja, sedangkan kondisi mereka saat itu sangat kekurangan.
3. Mengelola toko kecil lalu merantau ke Jakarta
Pada tahun 1951, Mochtar Riady menikahi Suryawati Lidya, wanita asal Jember. Oleh mertuanya, ia diberi tanggung jawab untuk mengelola sebuah toko kecil.
Mochtar Riady tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Hanya dalam tiga tahun, toko mertuanya itu langsung menjadi yang terbesar di Jember.
Setelah mengurus toko mertuanya, Riady memutuskan untuk hijrah ke ibu kota untuk meraih cita-citanya sebagai bankir.
4. Sempat bekerja di CV sampai dipercaya menjadi bankir
Mochtar Riady sempat bekerja di sebuah CV di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta selama setengah tahun. Lalu, ia bekerja pada seorang importir sambil berbisnis kapal kecil bersama temannya.
Setiap kali bertemu dengan relasi kerjanya, Mochtar Riady selalu mengutarakan hasratnya untuk menjadi pegawai bank. Hingga suatu ketika, salah seorang rekannya memberi kabar tentang sebuah bank yang dilanda masalah dan menawarinya untuk mengentaskan masalah itu. Tanpa pikir panjang, Riady menerima tawaran temannya.
Mochtar Riady berhasil membujuk Andi Gappa, pemilik Bank Kemakmuran yang sedang dilanda masalah. Tak tanggung-tanggung, Mochtar Riady langsung didapuk menjadi direktur di bank tersebut.
5. Tak paham apa pun hingga moncer di dunia perbankan
Mochtar Riady yang tidak memiliki pendidikan formal akuntansi merasa kebingungan ketika diamanahi menjadi direktur Bank Kemakmuran. Ia pun meminta pertolongan temannya, namun usahanya tetap gagal.
Akhirnya, Mochtar Riady berterus terang dengan Andi Gappa dan beruntungnya Andi menyetujui permintaannya untuk bekerja mulai dari nol, dari bagian kliring hingga checking account selama sebulan penuh. Setelah punya pemahaman perbankan yang cukup, Mochtar Riady berhasil membawa Bank Kemakmuran berkembang pesat hanya dalam setahun.
Selepas berhasil menyelamatkan Bank Kemakmuran, Mochtar Riady terus melanglang buana dalam dunia perbankan. Ia berpindah ke Bank Buana pada tahun 1964 dan berhasil menyelamatkan bank tersebut ketika Indonesia dilanda krisis tahun 1966.
Pada tahun 1971, Mochtar Riady berlabuh ke Bank Panin. Empat tahun kemudian, ia hengkang ke Bank Central Asia (BCA). Berkat sepak terjangnya yang gemilang di dunia perbankan, Mochtar Riady dijuluki sebagai The Magic Man of Bank Marketing.
6. Mendirikan Lippo Group
Tahun 1981, Mochtar Riady membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia milik Haji Hasyim Ning. Bersama Hasyim Ning, dirinya berhasil membawa aset Bank Perniagaan melejit lebih dari 1.500 persen menjadi Rp257,73 miliar di tahun 1987. Dua tahun kemudian, Bank Perniagaan merger dengan Bank Umum Asia yang melahirkan Lippo Bank, cikal bakal Lippo Group.
Saat ini, Lippo Group telah memayungi lebih dari 50 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, meliputi real estate, ritel, kesehatan, hingga media. Berdasarkan catatan Forbes, Mochtar Riady dan keluarganya memiliki kekayaan senilai USD 1,4 miliar atau sekitar Rp21,8 triliun. Angka tersebut menyeretnya masuk dalam daftar orang terkaya ke-29 di Indonesia.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





