Akurat

Kios Blok M Tutup Massal, Pedagang Tercekik Sewa Rp15 Juta per Bulan

Citra Puspitaningrum | 6 September 2025, 22:34 WIB
Kios Blok M Tutup Massal, Pedagang Tercekik Sewa Rp15 Juta per Bulan

AKURAT.CO Deretan kios di Plaza 2 Blok M kini lebih sering terlihat tertutup rapat. Warna merah dan hitam pintu gulung seakan menjadi simbol protes senyap para pedagang.

Bukan karena dagangan tak laku, melainkan harga sewa kios yang melonjak hingga Rp15 juta per bulan.

Angka itu dianggap tak masuk akal bagi pedagang kecil yang sudah bertahun-tahun mencari nafkah di sana.

"Daripada buka tapi hasilnya cuma buat bayar sewa, lebih baik tutup sekalian," keluh seorang pedagang yang enggan disebut namanya, Sabtu (6/9/2025).

Lorong yang biasanya ramai tawar-menawar kini berubah muram. Hanya segelintir kios yang masih bertahan, dengan wajah pedagang penuh kegelisahan.

Blok M, yang dulu dikenal sebagai pusat belanja rakyat dengan harga bersahabat, kini perlahan kehilangan denyutnya.

Baca Juga: Livoli: Taklukkan Kharisma Premium dengan Skor Telak, Rajawali O2C Dekati Babak Final Four

Deretan pintu besi yang tergembok bukan sekadar tanda kios kosong, melainkan kisah perlawanan sunyi para pedagang melawan beban sewa yang kian mencekik.

Blok M sejak lama dikenal sebagai ikon belanja rakyat Jakarta. Kawasan ini mulai berkembang pesat sejak era 1980-an, menjadi tempat favorit masyarakat untuk berburu pakaian, aksesori, hingga kuliner dengan harga terjangkau.

Lokasinya yang strategis di Jakarta Selatan serta terhubung dengan transportasi umum membuat Blok M tak pernah sepi pengunjung.

Namun, sejak beberapa tahun terakhir, wajah Blok M perlahan berubah. Modernisasi kawasan dan meningkatnya biaya operasional membuat harga sewa kios melonjak tajam.

Pedagang kecil yang dulu menjadi nyawa Blok M kini kian terdesak. Lonjakan harga sewa hingga belasan juta rupiah per bulan mendorong banyak pedagang memilih menutup kiosnya ketimbang bertahan dengan keuntungan yang kian menipis.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Blok M, yang dulunya simbol belanja rakyat, bisa kehilangan identitasnya.

Suasana lorong yang dulunya penuh kehidupan kini lebih sering sunyi, menyisakan pertanyaan: akankah Blok M tetap bertahan sebagai ruang rakyat atau sepenuhnya bergeser menjadi kawasan komersial bagi kalangan menengah ke atas?

Baca Juga: Belgia Pertimbangkan Kerahkan Tentara ke Jalanan Brussel untuk Lawan Kekerasan Narkoba

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.