Jakarta Kembali Absen dari 10 Kota Paling Toleran, Wagub Rano Karno Janji Berbenah!

AKURAT.CO Jakarta kembali gagal menembus daftar 10 besar kota paling toleran di Indonesia. Fakta itu terungkap dalam peluncuran Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang dirilis SETARA Institute di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (27/5/2025).
Kota Salatiga, Jawa Tengah, kembali menempati posisi puncak dengan skor 6,544. Posisi kedua dan ketiga masing-masing ditempati oleh Singkawang dan Semarang.
Sepuluh kota dalam daftar tersebut dinilai berhasil menjaga harmoni sosial dan keberagaman secara konsisten dalam tata kelolanya.
Menanggapi hal ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengaku tak berkecil hati. Ia justru menyatakan optimisme bahwa Jakarta masih memiliki peluang untuk memperbaiki citra dan performa toleransi di tahun-tahun mendatang.
"Semangat persatuan dan kesatuan ini harus terus dijaga dan dihidupkan di Jakarta. Ini bukan sekadar skor, tapi tentang membangun masyarakat yang mampu merangkul perbedaan," ujarnya dalam sambutannya.
Rano menegaskan, Pemprov DKI Jakarta tidak hanya fokus membangun dari sisi infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga memperkuat aspek sosial dan inklusivitas warganya.
Sementara itu, Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Ismail Hasani, menyebut bahwa IKT tahun ini disambut positif oleh para kepala daerah.
Baca Juga: BenQ Hadirkan Lapangan Golf ke Rumah Lewat Proyektor Simulasi AK700ST
Menurutnya, indeks ini telah menjadi instrumen penting dalam mendorong transformasi sosial dan memperkuat kohesi sosial antarwarga.
“Banyak kota yang dulunya berada di zona merah, sekarang terus membenahi diri. Ini menunjukkan bahwa perubahan ke arah yang lebih toleran itu mungkin dan sedang terjadi,” ujar Ismail.
Berikut daftar 10 besar kota paling toleran versi SETARA Institute tahun 2025:
-
Salatiga
-
Singkawang
-
Semarang
-
Magelang
-
Pematang Siantar
-
Sukabumi
-
Bekasi
-
Kediri
-
Manado
-
Kupang
Peluncuran IKT 2025 kembali menggarisbawahi pentingnya tata kelola kota yang menjunjung hak asasi manusia, kesetaraan, serta nilai-nilai kebhinekaan sebagai pilar utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November









