Akurat Logo

Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp17.882 di Penghujung Pekan

Esha Tri Wahyuni | 2 Oktober 2026, 16:56 WIB
Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp17.882 di Penghujung Pekan
Pada perdagangan akhir pekan (2/10/2026), rupiah ditutup di level Rp17.882 per USD, menguat 84 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.965 per USD.

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi ketidakpastian global, terutama dari potensi eskalasi konflik AS-Iran dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan indeks dolar AS memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Pada perdagangan akhir pekan, rupiah ditutup di level Rp17.882 per USD, menguat 84 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.965 per USD.

"Pada perdagangan pasar akhir pekan, mata uang rupiah ditutup menguat 84 poin, sebelumnya sempat menguat 85 poin di level Rp17.882 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.965," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (2/10/2026).

Baca Juga: Rupiah Sudah Melemah ke Rp17.966, Masih Efektifkah BI Rate 5,75 Persen?

Meski demikian, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan eksternal. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah meningkatnya spekulasi mengenai potensi eskalasi konflik AS-Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November mendatang.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur penting bagi pasokan energi global. Meningkatnya risiko gangguan pasokan energi berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi global.

"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," ujar Ibrahim.

Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Selain geopolitik, arah kebijakan moneter AS juga menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar AS dan rupiah.

Para pejabat The Fed masih memberikan sinyal yang beragam mengenai arah suku bunga. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyatakan perekonomian AS berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal dan menekankan perlunya kehati-hatian dalam melakukan penyesuaian suku bunga.

Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari masih menyuarakan sikap lebih ketat dengan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pasar juga menunggu rilis data ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls September. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.