HSBC: Rupiah Tak Lagi Jadi Masalah Utama, Fokus Indonesia Bergeser ke Reformasi Mikro

AKURAT.CO Rupiah sempat menjadi salah satu sumber kekhawatiran bagi investor ketika tekanan dolar Amerika Serikat menguat dan Bank Indonesia harus mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, menurut HSBC, persoalan tersebut mulai bergerak ke fase yang berbeda.
Ekonom HSBC, Frederic Neumann, menilai stabilitas rupiah, inflasi, dan fiskal Indonesia relatif mampu bertahan di tengah guncangan global. Dengan tekanan makro yang mulai lebih terkendali, perhatian berikutnya justru mengarah pada persoalan yang lebih mendasar: infrastruktur, pendidikan, regulasi, hingga penyediaan energi.
Singkatnya, HSBC melihat ekonomi Indonesia tidak lagi hanya membutuhkan stabilitas makro, tetapi perlu naik ke tahap reformasi mikro dan struktural. Stabilitas rupiah menjadi prasyarat, bukan tujuan akhir. Jika reformasi di tingkat mikro mampu memperbaiki produktivitas dan iklim usaha, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang lebih berkelanjutan.
Rupiah Mulai Keluar dari Pusat Kekhawatiran
Dalam paparan pada HSBC Indonesia Summit 2026, Frederic Neumann mengatakan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat meski menghadapi sejumlah tekanan global.
Ada setidaknya tiga guncangan yang menjadi perhatian HSBC, yakni kenaikan harga energi, tekanan pangan akibat El Nino, dan perubahan suku bunga global.
Indonesia memang terdampak ketiga faktor tersebut. Namun, Neumann menilai dampaknya sejauh ini tidak sampai mengganggu fondasi ekonomi secara signifikan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026 tercatat 5,4%. HSBC memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di level yang sama, sebelum sedikit melandai menjadi 5,2% pada 2027.
Ketahanan tersebut antara lain ditopang kemampuan pemerintah meredam dampak kenaikan harga energi melalui subsidi dan dukungan harga. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga energi global tidak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen domestik.
Pada sisi pangan, Indonesia juga relatif terlindungi karena memiliki sistem distribusi yang dinilai lebih baik dibanding episode El Nino sebelumnya. Indonesia bahkan secara keseluruhan merupakan eksportir bersih pangan sehingga ketergantungan terhadap impor tidak sebesar sejumlah negara Asia lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 5Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun







