Akurat Logo

HSBC: Rupiah Tak Lagi Jadi Masalah Utama, Fokus Indonesia Bergeser ke Reformasi Mikro

Idham Nur Indrajaya | 29 September 2026, 16:19 WIB
HSBC: Rupiah Tak Lagi Jadi Masalah Utama, Fokus Indonesia Bergeser ke Reformasi Mikro
HSBC menilai tekanan rupiah mulai mereda. Tantangan ekonomi Indonesia berikutnya bergeser ke reformasi mikro dan struktural. - dok. HSBC Indonesia

AKURAT.CO Rupiah sempat menjadi salah satu sumber kekhawatiran bagi investor ketika tekanan dolar Amerika Serikat menguat dan Bank Indonesia harus mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, menurut HSBC, persoalan tersebut mulai bergerak ke fase yang berbeda.

Ekonom HSBC, Frederic Neumann, menilai stabilitas rupiah, inflasi, dan fiskal Indonesia relatif mampu bertahan di tengah guncangan global. Dengan tekanan makro yang mulai lebih terkendali, perhatian berikutnya justru mengarah pada persoalan yang lebih mendasar: infrastruktur, pendidikan, regulasi, hingga penyediaan energi.

Singkatnya, HSBC melihat ekonomi Indonesia tidak lagi hanya membutuhkan stabilitas makro, tetapi perlu naik ke tahap reformasi mikro dan struktural. Stabilitas rupiah menjadi prasyarat, bukan tujuan akhir. Jika reformasi di tingkat mikro mampu memperbaiki produktivitas dan iklim usaha, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang lebih berkelanjutan.

Rupiah Mulai Keluar dari Pusat Kekhawatiran

Dalam paparan pada HSBC Indonesia Summit 2026, Frederic Neumann mengatakan ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat meski menghadapi sejumlah tekanan global.

Ada setidaknya tiga guncangan yang menjadi perhatian HSBC, yakni kenaikan harga energi, tekanan pangan akibat El Nino, dan perubahan suku bunga global.

Indonesia memang terdampak ketiga faktor tersebut. Namun, Neumann menilai dampaknya sejauh ini tidak sampai mengganggu fondasi ekonomi secara signifikan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026 tercatat 5,4%. HSBC memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 berada di level yang sama, sebelum sedikit melandai menjadi 5,2% pada 2027.

Ketahanan tersebut antara lain ditopang kemampuan pemerintah meredam dampak kenaikan harga energi melalui subsidi dan dukungan harga. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga energi global tidak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen domestik.

Pada sisi pangan, Indonesia juga relatif terlindungi karena memiliki sistem distribusi yang dinilai lebih baik dibanding episode El Nino sebelumnya. Indonesia bahkan secara keseluruhan merupakan eksportir bersih pangan sehingga ketergantungan terhadap impor tidak sebesar sejumlah negara Asia lainnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.