Akurat Logo

Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot

Esha Tri Wahyuni | 29 September 2026, 11:28 WIB
Rupiah Dekati Rp18.000, Airlangga: Ekspor Harus Digenjot
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut pemerintah mendorong penguatan industri tekstil dan produk tekstil sebagai salah satu sektor strategis. - Foto: Humas Ekon

AKURAT.CO Rupiah mendekati Rp18.000 per USD. Pemerintah memilih menggenjot ekspor untuk memperkuat devisa dan tetap mempertahankan asumsi kurs RAPBN 2027.

Pemerintah memilih memperkuat ekspor dan meningkatkan penerimaan devisa sebagai salah satu strategi menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah yang semakin mendekati level Rp18.000 per USD.

Di tengah tekanan pasar keuangan global dan domestik, pemerintah juga memastikan asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 per USD belum akan diubah.

Baca Juga: Ganti Strategi Stabilisasi Rupiah, BI Pangkas Intervensi di Pasar Spot

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah masih terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah. Menurutnya, peningkatan ekspor diperlukan untuk memperkuat pasokan devisa sehingga dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar.

"Ya kita monitor dulu. Pemerintah tentu kita akan menggenjot ekspor supaya devisa meningkat," ujar Airlangga usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam (28/9/2026).

Pelemahan rupiah terjadi ketika tekanan terhadap pasar keuangan domestik dan global meningkat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Senin (28/9/2026) melemah 0,46% ke level Rp17.975 per USD. Di pasar NDF, rupiah juga bergerak melemah dan sempat menyentuh Rp18.013 per USD pada Senin malam.

Tekanan tersebut membuat posisi rupiah semakin jauh dari asumsi nilai tukar yang digunakan pemerintah dalam RAPBN 2027. Pemerintah dan DPR sebelumnya telah menyepakati asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per USD untuk tahun anggaran 2027.

Selain kurs, asumsi makro tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi 6%, inflasi 2,5%, dan tingkat suku bunga SBN 10 tahun sebesar 6,9%.

Meski demikian, Airlangga memastikan pemerintah tidak akan melakukan perubahan terhadap asumsi kurs tersebut. Ia menyatakan pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi fundamental perekonomian nasional. "Tidak diganti, optimis," tegas Airlangga.

Airlangga mengatakan pemerintah juga mendapat arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan, termasuk stabilitas nilai tukar rupiah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.