Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Tertekan Lagi ke Rp17.930 per USD

Esha Tri Wahyuni | 23 September 2026, 08:05 WIB
Rupiah Diprediksi Tertekan Lagi ke Rp17.930 per USD
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (23/9/2026).

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.880-Rp17.930 per USD.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.880-Rp17.930," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Masih Tertekan ke Rp17.900 per USD

Rupiah ditutup di level Rp17.884 per USD pada perdagangan Selasa (22/9/2026), tertekan oleh penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, harga minyak, serta prospek kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Mengutip data Bloomberg, rupiah melemah 37 poin atau 0,21% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.847 per USD. Pada perdagangan hari yang sama, rupiah sempat melemah hingga 55 poin.

Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah masih datang dari kondisi eksternal. Indeks dolar AS menguat seiring perhatian investor terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan prospek kebijakan moneter AS.

Di tengah ketegangan tersebut, pasar mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New York dalam rangkaian Sidang Umum PBB.

Iran juga menyampaikan sejumlah syarat untuk membuka kembali ruang negosiasi melalui pihak penengah.

Namun, perkembangan diplomasi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko geopolitik. Serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap sejumlah target di Arab Saudi serta gangguan terhadap jalur ekspor menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi harga energi.

Pergerakan harga minyak menjadi penting bagi rupiah karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan terhadap negara-negara yang masih membutuhkan impor energi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.