Proyeksi Pertumbuan Ekonomi 6 Negara ASEAN 10 Tahun ke Depan, RI di Bawah Vietnam dan Filipina

AKURAT.CO Enam negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara (SEA-6), yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,8% per tahun selama 2026 hingga 2035.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh investasi asing dan pembentukan modal yang berkelanjutan, kelanjutan industrialisasi dan pembangunan infrastruktur, serta peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi.
Ketahanan konsumsi domestik dan struktur demografi yang mendukung di sejumlah negara dengan perekonomian besar di kawasan juga akan menjadi faktor pendorong tambahan.
Baca Juga: Jadwal Timnas Indonesia ASEAN Cup 2026: Lawan, Jam, Siaran Langsung, dan Venue
Namun, jalur pertumbuhan masing-masing negara mulai menunjukkan perbedaan seiring dengan beragamnya tingkat kekuatan institusi, ketahanan energi, dan kesiapan teknologi yang menentukan kemampuan setiap negara dalam menghadapi berbagai guncangan serta menangkap peluang baru.
Hal tersebut disampaikan dalam laporan “From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026–2035.” Memasuki edisi ketiga, laporan outlook 10 tahun (2026–2035) kini menggabungkan perspektif ekonomi, bisnis, dan kebijakan publik dari Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners.
Laporan tersebut menemukan bahwa kondisi global akan menjadi batasan bagi pertumbuhan kawasan dalam satu dekade mendatang, sementara pilihan kebijakan dalam jangka pendek akan menentukan bagaimana kinerja masing-masing perekonomian di tengah kondisi tersebut.
Setiap negara perlu menetapkan prioritas domestik yang berbeda, namun, prospek pertumbuhan masing-masing negara tetap saling terkait erat melalui perdagangan, investasi, rantai pasok, energi, dan teknologi.
Temuan Utama
Proyeksi dasar laporan untuk tahun 2026 hingga 2035 secara keseluruhan tetap pada angka 4,8%. Sebagai perbandingan, proyeksi laporan tahun 2024 memperkirakan 5,1% untuk periode 2024 hingga 2034.
Lintasan pertumbuhan menunjukkan divergensi bahwa Vietnam tetap menjadi pemimpin pertumbuhan regional, sementara Thailand tertinggal dari negara-negara lain di kawasan.
Rentang kemungkinan hasil telah melebar. Indonesia, Filipina, dan Thailand paling rentan dalam skenario penurunan. Sementara, Malaysia, Singapura, dan Vietnam menangkap potensi peningkatan yang tidak proporsional di bawah kondisi yang lebih menguntungkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK






