Akurat Logo

Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp17.760 Karena Hal Ini

Esha Tri Wahyuni | 27 Agustus 2026, 09:13 WIB
Rupiah Ditaksir Melemah ke Rp17.760 Karena Hal Ini
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (27/8/2026). 

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan eksternal, terutama arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed), serta sentimen dari perkembangan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran.

Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.720-Rp17.760 per USD pada perdagangan hari ini. 

Baca Juga: Destry: Naikkan BI Rate Bukan Satu-satunya Cara Stabilkan Rupiah

Dengan proyeksi tersebut, rupiah berpotensi kembali melemah setelah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) ditutup di level Rp17.725 per USD.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.720 per USD hingga Rp17.760 per USD," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (27/8/2026).

Pada perdagangan hari ini, rupiah hanya bergerak tipis. Mata uang Garuda melemah 2 poin atau 0,01% dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.723 menjadi Rp17.725 per USD.

Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi rupiah adalah arah kebijakan moneter AS. Pelaku pasar tengah menunggu data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole.

PCE menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan The Fed dalam menilai perkembangan inflasi. Data tersebut menjadi semakin penting bagi pasar karena inflasi AS masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.

Presiden Federal Reserve Bank of Boston Susan Collins mengatakan The Fed dapat mempertahankan suku bunga untuk sementara apabila inflasi terus menunjukkan kemajuan menuju target. 

Namun, Ibrahim juga memperingatkan bahwa suku bunga dapat kembali dinaikkan apabila penurunan inflasi tidak berlanjut. Kondisi tersebut membuat pasar masih berhati-hati menentukan arah dolar AS dan aset-aset emerging market, termasuk rupiah.

Perhatian berikutnya tertuju pada pidato Warsh di Jackson Hole. Investor mencari petunjuk mengenai strategi The Fed menghadapi inflasi yang masih tinggi sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi.

Reuters melaporkan pasar mengharapkan kejelasan lebih besar dari Warsh mengenai arah kebijakan moneter The Fed. 

Ketidakpastian tersebut sebelumnya ikut meningkatkan tekanan pada pasar obligasi AS dan membuat pelaku pasar lebih sensitif terhadap setiap sinyal kebijakan bank sentral.

Selain kebijakan The Fed, perkembangan konflik AS-Iran juga menjadi perhatian pasar valuta asing.

Ibrahim mengatakan indeks dolar AS menguat setelah media Rusia melaporkan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata. 

Laporan tersebut menyebut kesepakatan mencakup kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz dan diperkirakan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.

Perkembangan tersebut muncul setelah Pakistan menyatakan adanya kemajuan dalam pembicaraan mediasi dengan Iran. Pakistan sebelumnya juga berperan dalam memfasilitasi kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Bagi pasar keuangan, perkembangan di Selat Hormuz menjadi penting karena kawasan tersebut berkaitan erat dengan arus perdagangan energi global. 

Setiap perubahan risiko geopolitik dapat memengaruhi harga energi, persepsi risiko investor, hingga pergerakan mata uang.

Reuters mencatat konflik tersebut telah meningkatkan tekanan terhadap pasar energi global dan menjadi salah satu faktor yang ikut memperkuat tekanan inflasi.

Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi perekonomian Indonesia. Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai siklus ekonomi domestik masih belum berada pada tingkat optimal. 

Menurutnya, masih terdapat ruang untuk mendorong pertumbuhan melalui penguatan fungsi intermediasi perbankan. Siklus ekonomi RI saat ini masih berada di bawah tingkat optimalnya.

"Pertumbuhan kredit masih dapat terus didorong, mengoptimalkan undisbursed loan yang saat ini mencapai Rp2.548 triliun atau sekitar 21 persen dari plafon dan upaya penguatan daya beli masyarakat," kata Destry dalam uji kelayakan dan kepatutan calon Gubernur BI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Undisbursed loan merupakan fasilitas kredit yang telah tersedia tetapi belum ditarik atau direalisasikan oleh debitur. Besarnya nilai tersebut menunjukkan masih terdapat ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit ke sektor riil.

Destry juga melihat kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai salah satu segmen yang dapat didorong. Menurutnya, penguatan kredit UMKM penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Selain faktor global, pasar akan mendapatkan sejumlah data ekonomi domestik pada pekan depan.

Data yang akan menjadi perhatian antara lain inflasi Agustus, kinerja perdagangan Juli, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia, cadangan devisa, serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi domestik dan dapat menjadi pertimbangan investor dalam menentukan posisi di pasar keuangan.

Dengan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih bergerak dalam rentang yang cukup lebar pada perdagangan Kamis.

Untuk sementara, Ibrahim memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.720-Rp17.760 per USD dengan kecenderungan melemah. 

Pergerakan aktual rupiah tetap akan sangat bergantung pada perkembangan dolar AS, sentimen geopolitik, serta respons pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.