BI Perluas Skema LCT dengan Jepang, Dorong Transaksi QRIS hingga Obligasi
Hefriday | 25 Agustus 2025, 16:55 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) tengah menjajaki peluang perluasan kerja sama transaksi keuangan dengan Jepang melalui skema local currency transaction (LCT). Salah satu inisiatif yang dibahas adalah pembelian obligasi menggunakan rekening rupiah-yen secara bilateral.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan, langkah ini akan menjadi terobosan baru dalam memperdalam pasar keuangan Indonesia. Dengan integrasi tersebut, masyarakat dapat menggunakan rekening rupiah dan yen langsung melalui ponsel, tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga investasi.
“Kami ingin bergerak lebih jauh, menghubungkan dengan pasar uang dan transaksi keuangan. Bayangkan saja, rekening rupiah dan yen di ponsel bisa memfasilitasi perdagangan dan investasi,” kata Perry dalam acara High Level Campaign LCT & Launching QRIS Cross Border Indonesia–Jepang di Jakarta, Senin (25/8/2025).
Menurut Perry, pemanfaatan rekening yen dalam kerangka LCT nantinya bisa diperluas untuk membeli obligasi pemerintah, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun instrumen keuangan lain. Ia juga mendorong Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) serta pelaku industri keuangan untuk ikut berinovasi.
Perluasan LCT ini diyakini dapat membawa sejumlah manfaat, mulai dari peningkatan jumlah partisipan pasar, efisiensi transaksi, hingga penguatan ketahanan keuangan nasional. Skema ini juga dianggap mampu menekan volatilitas nilai tukar serta menurunkan biaya transaksi internasional.
“Ini adalah babak baru yang memperluas kerja sama yang lebih erat, tidak hanya dari sisi perdagangan dan investasi, tetapi juga pendalaman pasar keuangan di Indonesia,” ujar Perry.
Kerja sama LCT antara Indonesia dan Jepang pertama kali disepakati pada 2019 dan resmi diimplementasikan sejak 2020. Seiring berjalannya waktu, skema ini menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Data BI mencatat, pada periode Januari–Juli 2025, nilai transaksi LCT Indonesia–Jepang mencapai USD5,1 miliar. Angka ini naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD2,23 miliar.
Dari sisi pengguna, rata-rata jumlah nasabah yang memanfaatkan LCT juga meningkat menjadi 2.072 per bulan pada 2025, dari sebelumnya 1.360 nasabah per bulan pada 2024.
Selain perluasan transaksi obligasi, BI juga meresmikan implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Jepang. Dengan layanan ini, wisatawan Indonesia bisa bertransaksi di merchant Jepang hanya dengan memindai JPQR Global menggunakan aplikasi pembayaran domestik, tanpa perlu menukar valuta asing.
Pada tahap awal, layanan QRIS sudah dapat digunakan di 35 merchant di Jepang. Ke depan, jangkauan merchant akan terus diperluas agar semakin banyak masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan kemudahan ini.
Tidak hanya itu, masyarakat Jepang nantinya juga bisa menggunakan aplikasi pembayaran mereka untuk bertransaksi di Indonesia melalui pemindaian QRIS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









