Akurat

Kewajiban Neto RI Kuartal I-2025 Turun ke USD224,5 Miliar

Hefriday | 11 Juni 2025, 16:51 WIB
Kewajiban Neto RI Kuartal I-2025 Turun ke USD224,5 Miliar

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan kewajiban neto dalam posisi investasi internasional (PII) Indonesia pada kuartal I-2025.

Berdasarkan data resmi yang dirilis, kewajiban neto Indonesia tercatat sebesar USD224,5 miliar, turun dari USD245,7 miliar pada akhir kuartal IV-2024.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa penurunan kewajiban neto tersebut disebabkan oleh dua faktor utama.
 
Pertama, peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) dan kedua, penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN). Keduanya mencerminkan penguatan struktur eksternal Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
 
"Pada kuartal I-2025, posisi AFLN Indonesia meningkat menjadi USD533,1 miliar, naik 1,9 persen secara kuartalan (qtq) dari USD523,1 miliar pada akhir kuartal sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan investasi warga negara Indonesia pada instrumen finansial luar negeri, seperti saham, surat utang, dan instrumen lainnya", ujar Ramdan dalam keterangannya, Rabu (10/6/2025). 
 
 
Peningkatan aset luar negeri juga diperkuat oleh pelemahan dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, serta kenaikan harga emas internasional yang mendorong nilai portofolio Indonesia di luar negeri. Secara keseluruhan, hampir semua komponen AFLN mencatat peningkatan, terutama dari sisi pinjaman dan piutang usaha.
 
Sementara itu, posisi KFLN Indonesia menurun menjadi USD757,6 miliar, atau turun 1,5% dari posisi sebelumnya yang sebesar USD768,8 miliar. Penurunan ini terjadi meskipun aliran modal asing tetap masuk ke sektor investasi langsung dan portofolio.
 
Investasi langsung mencatat surplus, mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Selain itu, investasi portofolio juga mencatat neto aliran masuk, meski ketidakpastian di pasar keuangan global tengah meningkat akibat berbagai faktor eksternal.
 
Namun demikian, penurunan nilai KFLN juga dipengaruhi oleh penurunan nilai instrumen keuangan domestik, seiring dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama periode tersebut. Hal ini berkontribusi pada berkurangnya kewajiban finansial luar negeri dalam bentuk saham dan surat utang.
 
Bank Indonesia menilai, kondisi PII Indonesia saat ini tetap terkendali dan mendukung ketahanan sektor eksternal. Hal ini tercermin dari rasio PII terhadap produk domestik bruto (PDB) yang berada pada level 16%, lebih rendah dibandingkan 17,6% pada kuartal sebelumnya.
 
Struktur kewajiban PII Indonesia juga tetap sehat karena didominasi oleh instrumen berjangka panjang, yang mencapai 91,9%. Mayoritas berasal dari investasi langsung yang cenderung lebih stabil dibandingkan investasi jangka pendek.
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa