Ekonom Sebut Sektor Manufaktur Ini Paling Terdampak Tarif Trump
Hefriday | 14 Mei 2025, 13:47 WIB

AKURAT.CO Dampak ketidakpastian global akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai terasa terhadap berbagai sektor ekonomi di Indonesia.
Dalam kajian ekonomi terbarunya, Permata Institute for Economic Research (PIER) mengungkapkan sektor ekspor berorientasi AS menjadi yang paling terpukul sepanjang 2025.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa perang dagang berkepanjangan telah memicu penurunan pertumbuhan di sejumlah sektor industri yang sangat tergantung pada pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat.
“Industri tekstil dan garmen, alas kaki, elektronik, furniture, dan produk karet mengalami tekanan berat karena permintaan dari pasar AS melemah,” kata Josua dalam Konferensi PIER Q1 2025 Economic Review dan Media Gathering di Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Sektor-sektor ini diprediksi mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan tahun lalu. PIER mencatat, meskipun sektor manufaktur nasional tumbuh stabil 4,559% YoY berkat permintaan ekspor logam dasar, namun subsektor lain tetap mengalami gangguan.
"Industri yang bergantung pada komoditas ekspor mengalami penurunan performa akibat revisi tarif dan ketegangan global," imbuh Josua.
Sementara itu, sektor domestik masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Sektor jasa dan perdagangan tetap tumbuh solid didukung oleh konsumsi dalam negeri dan momentum Ramadan. Perdagangan ritel, misalnya, mencatat pertumbuhan 5,034% YoY.
Dari sisi sektoral lainnya, sektor pertanian mencatat pertumbuhan tertinggi 10,524% YoY berkat panen melimpah tanaman pangan seperti padi dan jagung. Namun, sektor konstruksi justru melambat karena adanya pergeseran anggaran belanja pemerintah.
PIER menilai bahwa pertumbuhan PDB Indonesia sepanjang 2025 kemungkinan tidak akan mencapai 5,196% seperti yang diperkirakan sebelumnya. Proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan hanya berada di bawah angka 5%, menandai koreksi serius akibat tekanan eksternal.
Untuk itu, PIER menyoroti perlunya strategi penguatan sektor domestik melalui peningkatan konsumsi dan investasi dalam negeri, serta perlindungan bagi industri yang terdampak langsung perang dagang.
"Jika ketidakpastian global berlanjut, PIER memperkirakan akan ada pelonggaran moneter dari Bank Indonesia. Penurunan suku bunga acuan hingga 50 basis poin dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional," tukas Josua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








