IMF: Pertumbuhan Asia Melambat, Indonesia Fokus Perkuat Konsumsi Domestik

AKURAT.CO Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan, pertumbuhan ekonomi Asia kini tengah mengalami perlambatan serius, terutama akibat ketegangan perdagangan global dan ancaman kenaikan tarif dari Amerika Serikat.
Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, Krishna Srinivasan, mengatakan negara-negara berkembang dan berpendapatan rendah di kawasan, termasuk Indonesia, berpotensi terdampak lebih berat dibandingkan negara-negara besar.
Dalam laporan terbarunya, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia dan Pasifik menjadi 3,9 persen tahun ini, turun 0,5 persen dari prediksi sebelumnya.
Penyebab utamanya adalah memburuknya hubungan perdagangan global, ketidakpastian ekonomi, serta pengetatan kondisi keuangan dunia.
"Ketegangan tarif dan melemahnya permintaan global dapat menjadi pukulan besar bagi negara-negara berpendapatan rendah yang memiliki ruang kebijakan terbatas," ujar Srinivasan, dikutip pada Senin (28/4/2025).
Ia menekankan, negara-negara kecil dan berkembang, seperti Indonesia, harus waspada karena ketergantungan terhadap ekspor membuat mereka rentan saat permintaan global melemah.
Baca Juga: Rusia Tegaskan Tak Akan Bangun Pangkalan Militer di Indonesia
Menghadapi tantangan ini, IMF mendorong negara-negara Asia, termasuk Indonesia, untuk memperkuat konsumsi domestik dan investasi swasta sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi.
Menurut Srinivasan, negara-negara besar seperti China, India, dan Indonesia memiliki potensi konsumsi dalam negeri yang besar dan perlu memanfaatkannya secara optimal.
"Model pertumbuhan baru yang lebih seimbang, tidak hanya mengandalkan ekspor, menjadi kunci ketahanan ekonomi di masa depan," tambahnya.
Selain memperkuat permintaan domestik, IMF juga menyarankan agar negara-negara Asia memperdalam integrasi ekonomi regional.
Srinivasan menyoroti pentingnya kerja sama seperti yang diinisiasi lewat Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), yang menurutnya mampu menciptakan iklim perdagangan yang lebih stabil dan prediktif.
Ia menekankan, kerja sama pragmatis di tingkat regional dan bilateral perlu terus didorong untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga: Revisi UU Ormas Dinilai Penting untuk Percepat Pembubaran Ormas Bermasalah
Bagi Indonesia, seruan IMF ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan berlebih pada ekspor bisa menjadi risiko.
Percepatan pembangunan sektor riil, mendorong konsumsi rumah tangga, serta memperkuat pasar dalam negeri menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 8Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








