Mendag Bangga Surplus Perdagangan Januari-Februari Tumbuh 133 Persen Secara Tahunan

AKURAT.CO Indonesia kembali mencatatkan surplus perdagangan pada Februari 2025 dengan nilai USD3,12 miliar. Meskipun lebih rendah dibandingkan Januari 2025 yang mencapai USD3,49 miliar, pencapaian ini memperpanjang tren surplus selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa surplus kali ini didorong oleh surplus sektor nonmigas sebesar USD4,84 miliar, meski harus mengimbangi defisit sektor migas sebesar USD1,72 miliar.
"Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari–Februari 2025 mencapai USD6,61 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya USD2,83 miliar," ujar Budi dalam keterangannya, Rabu (19/3/2025).
Baca Juga: Mendag Genjot Ekspor UMKM Lewar 33 Perwakilan Perdagangan
Total nilai ekspor Indonesia pada Februari 2025 mencapai USD21,98 miliar, meningkat 2,58% dibandingkan Januari 2025 dan naik 14,05% dibandingkan Februari 2024. Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya ekspor nonmigas sebesar 2,29% dan migas sebesar 8,25%.
Sektor industri menjadi kontributor terbesar dengan pangsa ekspor mencapai 84,69%, lebih tinggi dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 83,97%. Sektor pertambangan menyumbang 12,60% dan pertanian 2,71%.
Ekspor sektor industri mengalami kenaikan 3,17%, diikuti sektor pertanian yang naik 3,06%. Sebaliknya, ekspor sektor pertambangan turun 3,41% akibat melemahnya ekspor batu bara.
Beberapa produk yang mengalami lonjakan ekspor tertinggi antara lain, pertama ada mesin dan peralatan mekanis (HS 84) naik 37,85%, kedua lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) naik 37,04%, ketiga makanan olahan (HS 21) naik 20,30%, keempat logam mulia dan perhiasan (HS 71) naik 16,45%, kelima produk kulit samak (HS 42) naik 15,66%.
Tiga negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia masih dipegang oleh Tiongkok, AS, dan India dengan nilai ekspor USD8,29 miliar atau 39,79% dari total ekspor nonmigas nasional.
Beberapa negara dengan peningkatan ekspor terbesar antara lain Pakistan (69,09%), Spanyol (67,98%), Kanada (48,78%), Australia (46,73%), dan India (35,05%).
Secara kawasan, Afrika Tengah mencatatkan peningkatan ekspor tertinggi sebesar 84,50%, diikuti Australia (46,73%), Asia Selatan (35,93%), Eropa Selatan (24,59%), dan Oseania lainnya (19,91%).
Secara kumulatif, ekspor nonmigas Januari–Februari 2025 mencapai USD43,41 miliar, naik 9,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor nonmigas mengalami peningkatan 10,92% menjadi USD41,21 miliar, sementara ekspor migas justru turun 15,82% menjadi USD2,20 miliar.
Impor Indonesia pada Februari 2025 tercatat sebesar USD18,86 miliar, meningkat 5,18% dibandingkan Januari 2025 dan naik 2,30% dibandingkan Februari 2024. Kenaikan terjadi pada sektor nonmigas sebesar 3,52% dan migas sebesar 15,50%.
Secara tahunan, impor nonmigas naik 3,47%, sedangkan impor migas turun 3,77%. Impor masih didominasi bahan baku/penolong dengan pangsa 73,90%, diikuti barang modal 18,31%, dan barang konsumsi 7,79%.
Kenaikan impor bahan baku/penolong dan barang modal masing-masing sebesar 7,44% dan 4,13%, sejalan dengan ekspansi industri manufaktur. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2025 naik menjadi 53,6, menandakan sektor ini masih berkembang.
Sebaliknya, impor barang konsumsi justru turun 10,61% akibat melemahnya daya beli masyarakat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang turun dari 127,2 pada Januari 2025 menjadi 126,4 pada Februari 2025.
Beberapa bahan baku yang impornya meningkat signifikan meliputi logam mulia, minyak mentah, batu bara, bijih besi, dan gandum. Sementara itu, barang modal yang mengalami lonjakan impor antara lain ponsel pintar, instrumen navigasi, komputer, dan kendaraan pengangkut barang.
Sebaliknya, impor barang konsumsi seperti daging sapi beku, beras, jeruk mandarin, apel, dan cabai kering mengalami penurunan.
Beberapa produk impor nonmigas yang mengalami kenaikan terbesar pada Februari 2025 antara lain, pertama logam mulia dan perhiasan (HS 71) naik 110,26%, kedua bijih logam, terak, dan abu (HS 26) naik 88,86%, ketiga bahan bakar mineral (HS 27) naik 78,65%, keempat gula dan kembang gula (HS 17) naik 49,24%, kelima perangkat optik, fotografi, dan sinematografi (HS 90) naik 46,18%.
Negara asal impor nonmigas terbesar masih didominasi oleh Tiongkok, Jepang, dan Thailand dengan total pangsa 51,12%. Negara lain dengan kenaikan impor tertinggi termasuk Argentina (150,68%), Swiss (140,77%), Arab Saudi (79,48%), Australia (73,59%), dan Turki (63,78%).
Secara kumulatif, total impor Indonesia untuk periode Januari–Februari 2025 mencapai USD36,80 miliar, turun 0,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya impor migas sebesar 5,77%, meskipun impor nonmigas masih mengalami kenaikan 0,62%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









