Akibat Tarif Fantastis Trump, Ekonomi Kanada Kena Pukulan Telak

AKURAT.CO Ekonomi Kanada saat ini menghadapi tantangan berat akibat perang tarif dengan Amerika Serikat. Presiden AS, Donald Trump, memberlakukan tarif sebesar 10% untuk sektor energi Kanada dan 25% pada semua barang lainnya sejak 4 Maret 2025.
Sebagai respons hal tersebut, Kanada pun tidak tinggal diam dengan membalas kembali tarif terhadap produk-produk AS senilai CAD30 miliar (sekitar USD20,8 miliar), yang akan meningkat menjadi CAD155 miliar dalam tiga minggu ke depan.
Melihat hal tersebut, para ekonom memperkirakan kebijakan ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi Kanada sebesar 2 hingga 4%.
Bahkan beberapa analis menyebut Kanada bisa mengalami resesi moderat sebelum ekonomi kembali pulih.
Dikutip dari laman reuters, salah satu dampak paling serius dari perang tarif ini adalah meningkatnya risiko stagflasi, dimana situasi pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi justru meningkat.
Baca Juga: Rencana Trump Kenakan Tarif 25 Persen ke Kanada Bisa Ganggu Ekonomi AS
Akibat prediksi tersebut, harga barang-barang di Kanada diperkirakan akan melonjak akibat tarif ini, sementara aktivitas ekonomi melambat karena ketidakpastian perdagangan.
"Tarif balasan dan depresiasi mata uang bisa membuat inflasi naik lebih tinggi, dan ini menambah tekanan bagi perekonomian Kanada," tulis pernyataan
ekonom dari Bank of Montreal, Sal Guatieri.
Dengan inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, Bank of Canada (BOC) kini menghadapi dilema besar.
Para pedagang memperkirakan kemungkinan sebesar 95% bahwa BOC akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat untuk mengurangi dampak negatif perang dagang ini.
Bisakah Kanada Bertahan?
Menurut Gubernur BOC, Tiff Macklem, memperingatkan bahwa perang tarif yang berkepanjangan dapat mengurangi produksi Kanada hampir 3% dalam dua tahun serta mampu menghapus pertumbuhan selama periode tersebut.
Baca Juga: Cegah Tarif 25 Persen dari Trump, Kanada Terus Lobi AS
Tak hanya itu saja, akibat tarif tersebur nampaknya juga menekankan bahwa kedepan inflasi mampu melampaui target 2%, yang semakin menyulitkan langkah bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Banyak yang kini bertanya, berapa lama kebijakan ini akan berlangsung? Beberapa ekonom percaya bahwa Trump mungkin akan menarik kembali tarif ini dalam waktu dekat, seperti yang pernah terjadi pada Februari lalu.
Namun, selama perang tarif masih berlangsung, ekonomi Kanada harus siap menghadapi risiko yang lebih besar, termasuk kemungkinan resesi yang lebih dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Korlantas Polri Jemput Bola Pelayanan Pengurusan SIM hingga Desa, Sekolah, Kampus, dan Pesantren
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai







