Akurat Logo

China Terseret Perang Baru, Trump Kenakan Tarif ke Kapal Buatan Negeri Tirai Bambu

Demi Ermansyah | 23 Februari 2025, 14:57 WIB
China Terseret Perang Baru, Trump Kenakan Tarif ke Kapal Buatan Negeri Tirai Bambu

AKURAT.CO Tarif baru-baru ini diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal strategi geopolitik. 

Dimana dari usulan kebijakan tarif tersebut, AS tampaknya semakin serius menentang dominasi China di sektor maritim.
 
Langkah ini bukan sekadar persaingan dagang biasa, melainkan strategi jangka panjang untuk mengamankan posisi AS dalam ekonomi global.

Mengutip dari laman Bloomberg, Minggu (23/2/2025), selama dua dekade terakhir ini China sukses menguasai industri perkapalan dunia.
 
Dari yang awalnya hanya menguasai 5% pangsa pasar global pada 1999, kini angka tersebut melonjak hingga lebih dari 50% pada 2023.
 
 
Bukan hanya itu, China juga mengendalikan 95% produksi kontainer global dan 19% armada komersial dunia.

Bagi Amerika sendiri, ini bukan sekadar angka melainkan ketergantungan yang tinggi pada kapal-kapal China bisa menjadi ancaman bagi keamanan ekonomi mereka. 
 
Sebab apabila suatu saat China memutuskan untuk membatasi akses logistik, AS bisa mengalami gangguan besar dalam rantai pasokannya.
 
Adapun, kebijakan baru Trump tersebut berisi:
  • Bea masuk sebesar USD1 juta untuk setiap kapal buatan China yang masuk ke pelabuhan AS
  • Mewajibkan 1% ekspor AS untuk diangkut kapal berbendera AS, dan dalam tujuh tahun ke depan, target ini meningkat menjadi 15%
  • Kapal-kapal yang mengangkut ekspor AS harus dibuat di AS.

Kebijakan ini sejalan dengan Jones Act, yakni aturan lama yang mewajibkan kapal berbendera AS untuk mengangkut barang antar pelabuhan domestik.

Namun, kali ini cakupannya lebih luas dan bertujuan untuk membatasi dominasi China secara global.

Tentunya usulan kebijakan tersebut mendapat dukungan dari serikat pekerja, dimana serikat melihat usulan kebijakan ini sebagai peluang untuk menghidupkan kembali industri kapal domestik. 
 
Di sisi lain, pelaku bisnis ritel justru menentang karena khawatir kebijakan ini akan memicu lonjakan harga barang.

Sementara itu, di parlemen, ada berbagai pandangan mengenai kebijakan ini. Beberapa anggota Kongres setuju bahwa langkah ini bisa mengurangi pengaruh China dalam sistem perdagangan dunia.
 
Namun, ada juga yang mempertanyakan apakah AS benar-benar siap untuk mengurangi ketergantungan pada China dalam waktu singkat.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.