Akurat Logo

Harga Minyak Global Naik 1 Persen Lebih Jelang Tahun Baru Karena 2 Faktor Ini

Demi Ermansyah | 28 Desember 2024, 19:36 WIB
Harga Minyak Global Naik 1 Persen Lebih Jelang Tahun Baru Karena 2 Faktor Ini

AKURAT.CO Harga minyak mentah global menunjukkan tren kenaikan yang signifikan pada akhir pekan ini. Penurunan besar dalam stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) dan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi China menjadi dua faktor utama yang mendorong harga minyak naik lebih dari 1% pada Jumat (27/12). 

Dengan volume perdagangan yang cenderung rendah menjelang akhir tahun, situasi ini tetap mencuri perhatian pelaku pasar.

Dilansir Reuters, Sabtu (28/12/2024), Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah AS turun sebesar 4,2 juta barel pada pekan yang berakhir 20 Desember. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan prediksi analis Reuters yang memperkirakan penurunan hanya 1,9 juta barel. 
 
 
Bahkan, proyeksi dari American Petroleum Institute (API) sebelumnya hanya memperkirakan penurunan sebesar 3,2 juta barel. Data ini mengindikasikan bahwa permintaan bahan bakar meningkat signifikan selama musim liburan, sementara kilang-kilang di AS meningkatkan aktivitasnya.

Penurunan stok minyak ini memberikan dorongan besar bagi harga minyak mentah. Brent, sebagai patokan harga minyak dunia, naik 91 sen atau 1,2% menjadi USD74,17 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) mencatatkan kenaikan sebesar 98 sen atau 1,4% menjadi USD70,60 per barel. Pada basis mingguan, kedua jenis minyak ini mengalami peningkatan sekitar 1,4%.

Selain penurunan stok minyak AS, optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi China menjadi pendorong utama lain dalam kenaikan harga minyak. Bank Dunia pada Kamis (26/12) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi China untuk tahun 2024 dan 2025. Kabar ini memberikan harapan akan peningkatan permintaan minyak mentah dari negara pengimpor minyak terbesar di dunia tersebut.

Tak hanya itu, otoritas China juga telah menyetujui penerbitan obligasi negara khusus senilai CNY3 triliun (setara dengan USD411 miliar) pada tahun depan. Langkah ini diambil untuk menghidupkan kembali ekonomi yang lesu dan memberikan suntikan baru bagi pasar energi global.

Analis memperkirakan bahwa optimisme ini akan terus mendominasi pasar hingga awal tahun depan, terutama jika data ekonomi dari China menunjukkan hasil yang positif. Di sisi lain, volatilitas pasar minyak juga tetap dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan cuaca. 
 
Dengan stok minyak AS yang terus menipis, pelaku pasar diharapkan tetap memantau langkah-langkah lanjutan dari pemerintah dan sektor energi di negara tersebut. Melihat perkembangan ini, para analis menyarankan agar para pelaku industri energi bersiap menghadapi dinamika pasar yang lebih kompleks. 
 
Penurunan stok minyak yang tak terduga, ditambah dengan optimisme ekonomi global, bisa menjadi kombinasi yang memicu volatilitas harga minyak dalam beberapa bulan mendatang.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.