Pemda Perlu Terlibat Hadapi Tantangan Demografi dan Kelanjutusiaan

AKURAT.CO Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/ Bappenas, Maliki menegaskan sebagai negara keempat dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia dihadapkan pada perubahan demografi yang signifikan.
Menurutnya, sejak 2021 Indonesia memasuki era populasi menua, di mana lebih dari 10% penduduk berusia di atas 60 tahun. Pada 2023, lebih dari 32,5 juta penduduk Indonesia adalah lansia.
"Untuk itu, isu kelanjutusiaan dan ekonomi perawatan atau care economy telah masuk dalam agenda transformasi sosial pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025-2045, yang menyebutkan, meningkatkan lingkungan yang inklusif bagi anak-anak, penduduk usia lanjut, penyandang disabilitas, perempuan dan kelompok rentan lainnya," ujar Deputi Maliki saat membuka sesi Forum Pemerintah Daerah untuk Pengembangan Kebijakan Kelanjutusiaan yang merupakan rangkai acara Asia-Pacific Regional Conference (APRC) on Population Ageing 2024, dikutip Kamis (12/9/2024).
Baca Juga: Bappenas Targetkan Penerima Bansos Tepat Sasaran Capai 70 Persen
Sementara itu, transformasi sosial dinilai menjadi kunci penting dalam menghadapi perubahan demografi dan memastikan pembangunan inklusif dan berkelanjutan. Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Astrid Kartika, menyoroti peran penting pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan kelanjutusiaan dan pembangunan inklusif.
"Pemerintah daerah berada di garis depan dalam memberikan layanan bagi lansia. Forum ini menjadi wadah untuk bertukar gagasan dan memperkuat kolaborasi strategis di kawasan Asia-Pasifik," tuturnya.
Senada dengan Astrid, Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Restuardy Daud menyampaikan peran penting pemerintah daerah serta kebutuhan sinkronisasi kebijakan inklusif bagi lansia dalam dokumen perencanaan daerah. “Pemerintah daerah perlu memastikan kebijakan ini terintegrasi dalam program pembangunan di provinsi maupun kabupaten dan kota,” tegasnya.
APRC 2024 yang dihadiri berbagai perwakilan negara Asia-Pasifik ini diharapkan memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan penuaan penduduk serta mendorong inovasi kebijakan inklusif dan berkelanjutan bagi lansia.
"Kolaborasi dan kerja sama sangat penting untuk mencapai kemajuan, dengan menyatukan pengetahuan, sumber daya, dan perspektif, kita dapat menciptakan sistem perawatan lebih kohesif dan responsif yang menjamin para lansia mendapatkan rasa hormat, martabat, dan kualitas kehidupan yang layak," tukas Maliki.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









