Perlambatan Ekonomi Bikin China Naikkan Pagu Defisit Fiskal
Demi Ermansyah | 23 Agustus 2024, 14:18 WIB

AKURAT.CO Ekonom di China baru-baru ini kembali mendesak pemerintah Beijing untuk melonggarkan batasan defisit anggaran yang ada, dimana pelonggaran ini memberikan peluang bagi pemerintah pusat untuk meningkatkan pinjaman sebagai langkah memperkuat perekonomian yang sedang melemah.
Dilansir Bloomberg, menurut Wakil direktur Institut Keuangan & Perbankan di Akademi Ilmu Sosial China, Zhang Ming menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan untuk menggandakan penerbitan obligasi pemerintah khusus tahun ini hingga mencapai CNY3 triliun (sekitar USD420 miliar).
Zhang juga menekankan pentingnya meningkatkan batas defisit anggaran dari 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) guna memberikan Kementerian Keuangan lebih banyak fleksibilitas dalam kebijakan fiskal, seperti yang ia sampaikan dalam catatannya di WeChat.
Langkah ini bukanlah hal baru. Pada Oktober tahun lalu, China meningkatkan rasio defisit anggarannya dari 3% menjadi 3,8% dari PDB, yang memungkinkan penjualan obligasi tambahan senilai CNY1 triliun.
Untuk tahun ini, China kembali menetapkan rasio defisit sebesar 3%, yang sudah lama dipertahankan demi menjaga disiplin fiskal dan memberikan citra positif terhadap perekonomian. Seruan Zhang untuk meningkatkan peminjaman pemerintah sejalan dengan pendapat ekonom lain serta mantan pejabat di China, seperti mantan menteri keuangan Lou Jiwei dan mantan penasihat bank sentral Yu Yongding.
Pertumbuhan ekonomi China mengalami perlambatan terbesar dalam lima kuartal terakhir, sehingga meningkatkan kebutuhan akan stimulus fiskal untuk membantu Beijing mencapai target pertumbuhan tahunan sekitar 5%.
Zhang memperingatkan bahwa jika pemerintah tetap mempertahankan batas defisit anggaran pusat sebesar 3% persen, belanja fiskal akan berkurang dan bersifat pro-siklus, yang dapat mengancam pertumbuhan.
Chenjie Liu, Ketua Upright Asset Management, menyatakan bahwa kebijakan fiskal yang lebih agresif dibutuhkan untuk menghadapi tantangan-tantangan seperti perlambatan pasar properti, lemahnya posisi fiskal pemerintah daerah, dan rendahnya konsumsi rumah tangga.
Menurut Liu, peningkatan rasio defisit fiskal adalah alat kebijakan yang tepat dan efektif. Rasio defisit terhadap PDB perlu ditingkatkan hingga CNY4 triliun hingga CNY5 triliun, terutama melalui pinjaman pemerintah pusat yang lebih tinggi.
Liu, yang sebelumnya bekerja sebagai ahli strategi di Goldman Sachs China, juga menyarankan agar pemerintah menggunakan dana tambahan untuk mendorong konsumsi dengan memberikan subsidi langsung kepada keluarga berpenghasilan rendah, melunasi utang pemerintah daerah kepada perusahaan swasta, dan berinvestasi dalam teknologi serta manufaktur kelas atas.
China telah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan suku bunga, namun langkah ini belum cukup efektif dalam menggerakkan para peminjam, terutama karena harga rumah yang terus menurun dan pasar tenaga kerja yang suram. Stimulus fiskal dan kebijakan properti dinilai lebih efektif untuk memulihkan permintaan, meskipun pemerintah enggan menerapkannya dalam skala besar karena kekhawatiran terkait utang.
Ekonom dari China Securities Co, termasuk Huang Wentao, menekankan bahwa kebijakan fiskal perlu diperkuat, seperti dengan mempercepat penerbitan obligasi pemerintah dan meningkatkan transfer dana ke pemerintah daerah dan penduduk.
Huang juga merekomendasikan agar dana tersebut digunakan untuk menstimulasi konsumsi, memperkuat jaring pengaman sosial, dan meningkatkan layanan publik, guna mengatasi masalah kelebihan kapasitas dan investasi yang tidak efisien.
Pengeluaran pemerintah yang lambat tahun ini, terutama karena kesulitan pemerintah daerah dalam menemukan proyek berkualitas untuk investasi, juga menjadi perhatian. Pengeluaran di bawah anggaran dana pemerintah, yang mencakup investasi infrastruktur, menurun 17,6% pada semester pertama tahun ini.
Para pembuat kebijakan telah menyatakan niat mereka untuk mengizinkan pemerintah daerah menggunakan dana obligasi khusus pada area yang lebih luas, termasuk untuk mendanai pembelian rumah yang tidak terjual sebagai bagian dari upaya mendukung pasar perumahan.
Liu menegaskan bahwa China perlu mendukung pertumbuhan ekonomi guna menjaga agar risiko utang tetap terkendali, dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan meningkatkan rasio defisit dan memperluas ruang gerak fiskal pemerintah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









