Akurat Logo

Sebab Rupiah Melemah, Sri Mulyani: Suku Bunga The Fed Tak Akan Turun Seperti Harapan Pasar

Silvia Nur Fajri | 27 Juni 2024, 22:58 WIB
Sebab Rupiah Melemah, Sri Mulyani: Suku Bunga The Fed Tak Akan Turun Seperti Harapan Pasar

AKURAT.CO Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa pelemahan ini disebabkan oleh kekecewaan pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

Kemudian, Sri Mulyani menyebut bahwa pada bulan Mei saja, Rupiah telah mencapai level Rp16.431 per dolar AS. Pelemahan ini disebabkan oleh sentimen dari pasar keuangan global dan domestik.

"Dari sisi pasar keuangan global, pelemahan ini dikarenakan semakin terkonfirmasinya bahwa suku bunga The Fed tidak akan mengalami penurunan seperti yang diharapkan pasar, yakni sebanyak empat hingga lima kali," jelas Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN Kita, Kamis (27/6/2024).

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Cermat Mitigasi Pelemahan Rupiah

Lebih lanjut, Sri Mulyani menyebut bahwa pasar mengharapkan penurunan suku bunga sebanyak empat hingga lima kali pada tahun ini. Namun, kenyataannya, Federal Funds Rate (FFR) masih stabil di 5,5% dan tidak ada tanda-tanda bahwa suku bunga tersebut akan segera turun.

"Market dalam hal ini mengharapkan adanya penurunan empat hingga lima kali pada tahun ini, namun ternyata FFR masih mengalami posisi yang stabil di 5,5% dan tidak terjadi tanda-tanda bahwa mereka akan segera menurunkan," ujarnya.

Selain itu, Sri Mulyani juga menambahkan bahwa penurunan suku bunga yang paling optimis hanya akan terjadi satu kali pada tahun ini.

"Bahkan mungkin yang paling optimis penurunannya hanya satu kali pada tahun ini. Ini yang menyebabkan ekspektasi market yang kecewa atau tidak tersampaikan," imbuhnya.

Hal tersebutlah yang menurut Menkeu menjadi salah satu penyebab menguatnya dolar AS sehingga Rupiah mengalami depresiasi. Saat ini, Rupiah mengalami depresiasi sebesar 6,58% secara year to date (ytd). Namun, Sri Mulyani menegaskan bahwa kondisi ini masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

"Kita lihat seperti Brazil depresiasinya jauh lebih dalam, atau kalau anda sekarang baru mengikuti Jepang mengalami depresiasi yang sangat dalam bahkan pada levelnya sudah temperable dengan 1986," terang Menkeu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.