Masa Panen, RI Catatkan Deflasi 0,03 Persen di Mei 2024

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya deflasi sebesar 0,03% pada Mei 2024. Deflasi ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk masa panen yang berlangsung sepanjang Mei dan kebijakan pemerintah terkait Harga Acuan Tertinggi (HAT).
Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa tren kenaikan harga emas di pasar internasional juga mempengaruhi perkembangan harga di dalam negeri.
"Pada bagian pertama ini saya akan menyampaikan bahwa inflasi pada Mei 2024 mengalami deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan, atau terjadi penurunan indeks harga konsumen dari 106,40 pada April 2024 menjadi 106,37 pada Mei 2024," ungkap Amalia di Kantor BPS, Jakarta, Senin (3/6/2024).
Baca Juga: Inflasi April 2024 Melandai ke 0,25 Persen
Berdasarkan data BPS, harga emas di pasar internasional menunjukkan tren kenaikan. Rata-rata harga emas di Pasar London sepanjang Mei 2024 mencapai USD2.351 per troy ons, naik 0,62% dibandingkan April 2024. Hal ini turut mempengaruhi dinamika harga di dalam negeri.
Selain itu, kebijakan relaksasi atau penyesuaian harga acuan serta harga eceran tertinggi yang diberlakukan oleh Badan Pangan Nasional pada April lalu masih berlaku hingga 31 Mei 2024 untuk beberapa komoditas seperti gula pasir, jagung pipilan kering, telur ayam, dan beras.
Amalia menambahkan bahwa kelompok barang yang mengalami deflasi terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi sebesar 0,29% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,08%.
"Adapun komoditas penyumbang utama deflasi adalah beras dengan andil deflasi sebesar 0,15 persen, daging ayam ras dan ikan segar dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,03 persen, serta tomat dan cabe rawit dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,02 persen," jelasnya.
Lebih lanjut, Amalia menjelaskan bahwa beberapa komoditas lainnya yang memberikan andil deflasi adalah tarif angkutan antar kota dengan andil deflasi sebesar 0,03%, tarif angkutan udara dengan andil deflasi sebesar 0,02%, serta tarif kereta api dengan andil deflasi sebesar 0,01%.
"Komoditas lainnya yang juga memberikan andil inflasi antara lain emas perhiasan, bawang merah, dan cabai merah dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,05 persen," tambahnya.
Inflasi bulan ke bulan atau Month-to-Month (MTM) pada Mei 2024 didorong oleh deflasi pada komponen harga diatur pemerintah dan komponen harga bergejolak.
"Komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,13% dengan andil deflasi sebesar 0,02%, dimana komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah tarif angkutan antar kota, tarif angkutan udara, dan tarif kereta api," ungkap Amalia.
Komponen harga bergejolak juga mengalami deflasi sebesar 0,69% dengan andil deflasi sebesar 0,12%. "Komponen yang dominan memberikan andil deflasi adalah beras, daging ayam ras, tomat, dan juga cabe rawit," ujar Amalia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








