Akurat Logo

Akhir Pekan, Rupiah Turun 19 Poin ke Rp15.599

M. Rahman | 15 Maret 2024, 16:43 WIB
Akhir Pekan, Rupiah Turun 19 Poin ke Rp15.599

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp15.599 pada perdagangan Jumat, 15 Maret 2024 usai rilis data indeks harga produsen AS yang lebih kuat.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal.

Dari eksternal, data indeks harga produsen lebih kuat dari perkiraan untuk bulan Februari. Angka tersebut muncul setelah data indeks harga konsumen yang lebih kuat dari perkiraan yang dirilis awal pekan ini, yang juga menunjukkan inflasi semakin menjauh dari target tahunan Federal Reserve sebesar 2%.

Angka inflasi yang lebih tinggi terjadi tepat sebelum pertemuan Fed minggu depan, di mana bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah.

Namun The Fed kini berpotensi menawarkan sikap yang lebih hawkish terhadap suku bunga, mengingat pihaknya telah berulang kali mengisyaratkan bahwa penurunan suku bunga apa pun pada tahun 2024 sebagian besar akan ditentukan oleh jalur inflasi.

Baca Juga: Rupiah Naik Lagi 50 Poin ke Rp15.654 Jelang Rilis Data Nonfarm Payroll AS Besok

"Pedagang terlihat memangkas ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga pada bulan Juni dan menaikkan ekspektasi penurunan suku bunga, menurut alat CME Fedwatch. Prospek kenaikan suku bunga jangka panjang membebani mata uang Asia secara luas," ujar Ibrahim dikutip Jumat (15/1/2024).

Minggu depan, Bank sentral diperkirakan akan mengakhiri kebijakan pengendalian suku bunga negatif dan kurva imbal hasil dalam beberapa bulan mendatang, dengan para analis berbeda pendapat mengenai keputusan yang akan diambil pada bulan Maret atau April.

BoJ berpotensi menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir 17 tahun pada minggu depan, terutama karena inflasi Jepang masih stagnan pada bulan Februari, sementara negosiasi upah Jepang baru-baru ini menunjukkan kenaikan besar-besaran pada tahun 2024.

Kedua faktor tersebut merupakan pertimbangan utama BoJ dalam melakukan pengetatan. kebijakan.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Februari mengalami surplus USD0,87 miliar.

Sedangkan secara kumulatif, neraca perdagangan mencapai USD2,87 miliar dolar. Walaupun terjadi surplus, namun NPI mengalami penurunan USD6,42 miliar dibandingkan periode yang sama Januari-Februari 2023.

Sedangkan, surplus neraca perdagangan Indonesia Februari 2024 terutama berasal dari sektor nonmigas USD2,63 miliar, namun tereduksi oleh defisit sektor migas senilai USD1,76 miliar.

Sementara itu nilai ekspor nasional pada Februari 2024 mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekspor Indonesia turun menjadi USD19,31 miliar atau 5,79% (month-to-month/mtm) dibandingkan Januari 2024. Ekspor migas tercatat USD1,22 miliar atau turun 12,93%, dan nilai ekspor non migas turun 5,72% menjadi USD18,09 miliar.

Penurunan ekspor pada Februari 2024 di dorong oleh penurunan ekspor non migas, utamanya pada komoditas besi dan baja HS 72 dengan andil penurunan sebesar 3,26%. Selanjutnya, lemak dan minyak hewani nabati atau HS15 dengan andil penurunan sebesar 2,60%, serta logam mulia dan perhiasan permata HS 71 dengan andil penurunan sebesar 0,60%.

Kemudian, penurunan ekspor non migas di dorong oleh penurunan nilai ekspor gas. Tercatat komoditas ini memberikan andil penurunan sebesar 1,58%. Secara tahunan, nilai ekspor Februari 2024 mengalami penurunan sebesar 9,45%.

Sementara itu, pada periode yang sama nilai impor Indonesia Februari 2024 mencapai USD18,44 miliar, turun 0,29% dibandingkan Januari 2024.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa