DPR Desak Pemerintah Siapkan Insentif Usai Penurunan Tarif Ekspor AS

AKURAT.CO Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal menegaskan bahwa kesepakatan penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dari yang sebelumnya 32% menjadi 19% harus segera ditindaklanjuti dengan kebijakan afirmatif di dalam negeri. Hal ini guna memastikan industri lokal benar-benar merasakan dampaknya.
Syamsu juga mengakui penurunan tarif ini merupakan hasil dari proses negosiasi panjang yang melibatkan berbagai elemen, termasuk peran aktif Presiden Prabowo Subianto dan para diplomat yang terlibat.
"Kita gembira karena tarif berhasil direvisi turun tapi tentu ini membawa konsekuensi. Kita harus mengikuti skema perdagangan tertentu yang bersifat mandatory," jelasnya dikutip dari laman resmi DPR RI, Sabtu (19/1/2025)
Baca Juga: Komisi I DPR Rampungkan Uji Kelayakan 24 Calon Dubes, Siap Dikirim ke Pimpinan DPR
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks diplomasi ekonomi, pengurangan hambatan tarif adalah bagian dari prinsip take and give dalam perjanjian dagang internasional. Namun, sambungnya, ketika barang dari luar negeri masuk dengan tarif nol persen, Indonesia harus memastikan bahwa pelaku usahanya tetap bisa bersaing.
"Produk kita bisa kalah harga sampai 19 persen dibandingkan produk impor jika tidak ada perlakuan khusus. Maka, pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang afirmatif, terutama bagi UMKM dan industri strategis nasional," tuturnya.
Syamsu pun mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan skema pembebasan sementara bea masuk dan insentif khusus untuk sektor terdampak, seperti industri manufaktur, pertahanan, dan pertanian.
"Bisa melalui Peraturan Presiden atau Peraturan Menteri. Intinya adalah memastikan bahwa produk kita tetap kompetitif, bukan hanya di pasar ekspor, tapi juga di pasar domestik yang kini terbuka lebar bagi barang impor," tegasnya.
Dirinya juga menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh antar-kementerian, termasuk Kementerian Perdagangan, Perindustrian, hingga Kementerian Keuangan, untuk membangun ekosistem perdagangan yang sehat dan adil pasca-penurunan tarif.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa diplomasi ekonomi tidak hanya soal angka dan neraca perdagangan, tetapi juga menyangkut daya tahan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Baca Juga: Nama Adik Luhut, Kartini Sjahrir Masuk Bursa Dubes Jepang, Komisi I DPR Angkat Bicara
"Jangan sampai kita hanya jadi pasar bagi produk luar. Diplomasi yang berhasil harus dibarengi keberpihakan terhadap produsen lokal. Kita harus menang di perundingan dan menang di dalam negeri," pungkas Syamsu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah








