Akurat Logo

Ketegangan AS-China Kembali Memanas, Chip Huawei Jadi Pemicu Konflik Dagang Baru

Demi Ermansyah | 20 Mei 2025, 15:25 WIB
Ketegangan AS-China Kembali Memanas, Chip Huawei Jadi Pemicu Konflik Dagang Baru

AKURAT.CO Harapan akan mencairnya hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China pasca-gencatan tarif yang disepakati di Jenewa kembali terancam.

Ketegangan terbaru dipicu oleh pernyataan Departemen Perdagangan AS yang menyebut penggunaan cip Huawei seri Ascend dapat melanggar aturan ekspor Amerika, bahkan jika digunakan di luar negeri.

Meskipun Washington kemudian merevisi panduan tersebut seraya menghapus frasa 'di mana pun di dunia' China tetap mengecam pernyataan tersebut sebagai bentuk diskriminasi terhadap industri teknologi tinggi mereka.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat, Sentimen Damai Dagang AS-China Jadi Pendorong

Bahkan pemerintah China menuding tindakan AS telah merusak konsensus yang sebelumnya dicapai dalam pembicaraan tingkat tinggi antara kedua negara.

“AS telah menunjukkan sikap yang tidak konstruktif dan merusak kepercayaan dalam dialog dagang,” demikian pernyataan resmi pemerintah China dikutiip dari laman reuters.

Beijing lebih lanjut menegaskan, meskipun revisi dilakukan, substansi kebijakan masih tetap membatasi ruang gerak teknologi China, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan (AI).

Langkah keras AS terhadap chip Huawei mencerminkan kembali ketegangan strategis yang mendalam antara dua ekonomi terbesar dunia, khususnya dalam perebutan supremasi teknologi AI dan semikonduktor.

Huawei, yang berbasis di Shenzhen, telah menjadi simbol kebangkitan teknologi nasional China sejak berhasil meluncurkan prosesor canggih untuk ponsel seri Mate 60 Pro pada 2023, meskipun masih di bawah sanksi berat dari AS.

Baca Juga: Begini Tanggapan The Fed Soal Penurunan Tarif Trump Untuk China

Ketua perunding dagang China, Li Chenggang, juga angkat bicara dalam forum APEC di Korea Selatan pekan lalu.

Li mengkritik kontrol ekspor AS yang dinilainya berlebihan dan menggunakan alasan keamanan nasional untuk menekan dominasi China di sektor teknologi. Di sisi lain, perwakilan AS menyatakan langkah ini penting untuk melindungi kemampuan manufaktur domestik mereka.

Sejumlah analis menilai bahwa retorika keras Washington terhadap penggunaan chip buatan Huawei tak hanya memukul posisi China dalam rantai pasok global, tetapi juga mengirim sinyal tegas kepada negara-negara mitra agar berhati-hati dalam menjalin kerja sama teknologi dengan Beijing.

Tidak hanya itu, pembicaraan di Jenewa juga menyeret isu strategis lainnya seperti ekspor tanah jarang. China disebut-sebut menggunakan dominasinya atas pasokan mineral penting ini sebagai alat tawar dalam negosiasi. Ekspor tanah jarang dari Negeri Tirai Bambu sempat turun hingga 19%, menciptakan kekhawatiran akan terganggunya produksi perangkat teknologi tinggi secara global.

Dengan belum adanya jadwal pasti untuk putaran dialog berikutnya dan hubungan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang masih beku, peluang untuk menghindari konflik dagang lanjutan semakin menipis.

Meski KTT G20 di Afrika Selatan menjadi momen potensial pertemuan pejabat tinggi, sinyal-sinyal saling curiga antara Washington dan Beijing masih sangat kental.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.