Akurat Logo

Berharap Lolos dari Tarif Impor Baja dan Aluminium, Australia Siap Lobi AS

Demi Ermansyah | 27 Februari 2025, 09:30 WIB
Berharap Lolos dari Tarif Impor Baja dan Aluminium, Australia Siap Lobi AS

AKURAT.CO Hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Australia kembali diuji pasca Presiden Donald Trump mengumumkan rencana tarif baru untuk impor baja dan aluminium.

Dimana kebijakan tersebut langsung menimbulkan kekhawatiran bagi Australia, yang selama ini mengandalkan ekspor bahan mentahnya ke Negeri Paman Sam.

Namun, apakah ini ancaman nyata bagi industri Australia atau sekadar strategi negosiasi Trump yang sudah biasa?

Australia Berusaha Lobi Washington

Mengutip dari laman reuters, Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers beberapa waktu lalu terbang ke Washington untuk bertemu dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dimana salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah permintaan Australia agar dibebaskan dari tarif baru tersebut.

Bersama Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, Chalmers dan Bessent dikabarkan juga akan membahas berbagai kerja sama ekonomi yang lebih luas. Pasca pertemuan tersebut, mereka dijadwalkan menghadiri acara di Kedutaan Besar Australia guna mempromosikan industri pensiun Australia yang tengah berkembang pesat dan kini bernilai USD2,6 triliun.

Baca Juga: Trump Kenakan Tarif ke Kapal China, Harga Barang di AS Bakal Melonjak?

Menjelang pertemuan, Chalmers mengakui bahwa diskusi tentang tarif baja dan aluminium belum tentu akan membuahkan hasil dalam kunjungannya kali ini.

“Tarif memang akan dibahas, tapi bukan satu-satunya topik utama. Ada banyak hal yang perlu dinegosiasikan,” ujarnya.

Seperti yang diketahui, Trump dikenal dengan gaya negosiasi agresifnya. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan proteksionis seperti ini kerap ia gunakan untuk menekan mitra dagang agar mau berkompromi dalam perjanjian dagang lainnya.

Dengan menerapkan tarif tinggi, Trump kemungkinan ingin menegosiasikan kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi AS, terutama dalam kebijakan "America First" yang terus ia dorong.

Pemerintah Australia sendiri sudah mencoba menjalin komunikasi dengan tim Trump bahkan sebelum pemilu AS tahun lalu.

Namun, setelah Trump kembali berkuasa, hubungan ini semakin diuji dengan rencana tarif baru yang berpotensi menghambat ekspor Australia.

 

Dalam percakapan telepon awal bulan ini, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, telah meminta Trump untuk mempertimbangkan pengecualian bagi negaranya. Trump dikabarkan tidak menolak mentah-mentah permintaan tersebut, tetapi penasihat perdagangannya, Peter Navarro, justru menentangnya dengan tegas.

"Australia hanya akan membunuh industri aluminium kita," ujar Navarro dalam wawancaranya bersama CNN

Lalu adakah dampaknya bagi Ekonomi Australia?

Tarif baru ini bukan hanya berpotensi menghambat ekspor baja dan aluminium, tetapi juga dapat berdampak pada berbagai sektor industri lainnya.

Sebab pasar AS merupakan salah satu tujuan utama ekspor Australia, sehingga jika tarif ini diterapkan tanpa pengecualian, industri Australia harus mencari pasar alternatif atau menghadapi kenaikan biaya yang signifikan.

Baca Juga: Babak Baru Perang Dagang AS vs Uni Eropa: Saling Adu Tarif

Namun, di sisi lain, beberapa analis percaya bahwa ini hanyalah bagian dari taktik negosiasi Trump. Mereka berpendapat bahwa Australia masih memiliki peluang untuk mendapatkan pengecualian, mengingat hubungan erat kedua negara dalam perdagangan dan keamanan.

Oleh karena itu, kebijakan tarif Trump mungkin tampak seperti ancaman bagi ekonomi Australia, tetapi ini juga bisa menjadi peluang bagi Australia untuk menegosiasikan perjanjian perdagangan yang lebih baik.

Dengan nilai investasi Australia di AS yang terus bertumbuh saat ini mencapai USD400 miliar dan diperkirakan akan berlipat ganda dalam dekade mendatang Australia memiliki daya tawar yang cukup kuat untuk menekan Washington agar memberikan kelonggaran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.