AKURAT.CO Perang dagang babak baru tampaknya akan segera dimulai. Donald Trump, yang dikenal dengan kebijakan proteksionismenya, berencana menerapkan tarif balasan terhadap negara-negara yang dinilai memberikan perlakuan tidak adil kepada AS.
Dimana langkah tersebut diperkirakan akan berdampak luas pada ekonomi Asia, terutama bagi negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap ekspor ke AS.
Menurut analis dari Nomura Holdings Inc., banyak negara Asia berkembang cenderung mengenakan tarif lebih tinggi pada barang-barang AS dibandingkan sebaliknya. Hal ini membuat mereka berisiko menjadi target kebijakan proteksionisme Trump.
Dikutip dari Reuters, Kamis (13/2/2025), Trump menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk memastikan perdagangan yang lebih adil bagi AS. Ia juga mengindikasikan bahwa strategi tarif universal yang pernah diterapkan sebelumnya bisa digantikan dengan pendekatan yang lebih selektif dan agresif.
Negara-Negara Asia Berbenah
Menghadapi ancaman ini, negara-negara Asia mulai menyusun strategi. Beberapa negara, termasuk India dan Thailand, telah berusaha meningkatkan kerja sama ekonomi dengan AS untuk meredakan kemungkinan dampak negatif dari kebijakan baru ini.
Thailand, misalnya, mempertimbangkan untuk meningkatkan impor barang-barang AS, termasuk etana dan produk pertanian. Sementara itu, India mulai bernegosiasi untuk meningkatkan pembelian gas alam cair dari AS sebagai langkah antisipatif.
Namun, dampak dari kebijakan ini bisa jauh lebih luas. Analis dari Morgan Stanley memperkirakan bahwa beberapa negara Asia lainnya juga bisa terkena imbas kenaikan tarif. Kebijakan tarif ini bisa diterapkan secara nasional, industri tertentu, atau bahkan produk individual, tergantung bagaimana pemerintahan Trump ingin menyeimbangkan perdagangan AS.
Jika Trump benar-benar menerapkan kebijakan tarif balasan ini, dampaknya tidak hanya akan dirasakan di Asia, tetapi juga dalam perdagangan global secara keseluruhan. Negara-negara eksportir besar di kawasan ini harus mencari cara untuk tetap kompetitif dan menghindari eskalasi ketegangan perdagangan dengan AS.
"Tarif yang diberlakukan kali ini lebih agresif dibandingkan perang dagang pertama Trump pada 2018-2019, Ketegangan bisa meningkat lebih jauh, dan perkembangan minggu ini telah meningkatkan risiko tersebut secara signifikan," tulis analis Morgan Stanley dalam laporannya.
Para ekonom memperkirakan bahwa beberapa negara akan mencoba bernegosiasi langsung dengan AS untuk mendapatkan pengecualian atau kesepakatan khusus. Sementara itu, beberapa negara lain mungkin akan mencari pasar alternatif untuk mengurangi ketergantungan mereka pada perdagangan dengan AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T









