Redam Tarif Trump, India Perluas Kerja Sama dengan AS
Demi Ermansyah | 13 Februari 2025, 12:57 WIB

AKURAT.CO Kebijakan perdagangan Donald Trump kembali menjadi sorotan. Kali ini, India dan Thailand diperkirakan akan menjadi dua negara yang paling terdampak oleh ancaman tarif balasan yang sedang dipertimbangkan oleh AS.
Dimana kedua negara ini dianggap berisiko tinggi karena kebijakan tarif mereka terhadap barang-barang AS yang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif yang dikenakan AS kepada mereka.
Mengutip Reuters, Kamis (13/2/2025), Analis dari Nomura Holdings Inc., yang dipimpin oleh Sonal Varma memaparkan bahwa negara-negara berkembang di Asia cenderung menerapkan tarif lebih besar pada produk impor AS.
Tentunya hal ini membuat mereka rentan terkena kebijakan balasan jika Trump benar-benar menerapkan tarif dengan prinsip 'mata dibayar dengan mata, tarif dibayar dengan tarif'.
Trump sendiri telah mengumumkan rencana kebijakan tersebut pada Jumat (7/2/2025), dengan alasan bahwa AS harus diperlakukan lebih adil dalam perdagangan internasional.
Menanggapi ancaman tersebut, India dan Thailand sudah mulai mengambil langkah antisipatif. Importir gas alam cair India, misalnya, telah memulai negosiasi untuk membeli lebih banyak bahan bakar dari AS sebelum pertemuan bilateral antara kedua negara.
Langkah ini diyakini sebagai strategi untuk menenangkan Trump dan menghindari potensi lonjakan tarif.
Sementara itu, Thailand juga mempertimbangkan untuk meningkatkan impor produk AS. Dimana negara tersebut sudah merencanakan peningkatan impor etana serta beberapa komoditas pertanian sebagai bagian dari strategi menghadapi kebijakan baru AS.
Namun, menurut analisis Bloomberg Economics dan Deutsche Bank, India tetap menjadi negara dengan risiko tertinggi. Perbedaan tarif antara India dan AS yang mencapai lebih dari 10 poin persentase dapat membuat India menjadi sasaran utama tarif balasan Trump.
Morgan Stanley memperkirakan bahwa India dan Thailand bisa menghadapi kenaikan tarif sebesar 4-6 poin persentase jika AS benar-benar menerapkan kebijakan ini secara agresif. Dalam skenario ini, India mungkin harus meningkatkan pembelian alutsista, energi, dan pesawat AS demi meredakan ketegangan perdagangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









