Inflasi Inti Reda, Pasar Saham dan Kripto AS Kompak Menguat
Hefriday | 17 Januari 2025, 22:40 WIB

AKURAT.CO Pasar kripto dan saham Amerika Serikat (AS) mencatat penguatan serempak di tengah meredanya inflasi inti di negara tersebut.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menyatakan bahwa penurunan laju inflasi memberikan harapan terhadap potensi tercapainya target inflasi 2 persen yang ditetapkan oleh Bank Sentral AS (The Fed).
Menurut Fahmi, inflasi inti AS pada bulan Desember hanya naik sebesar 0,2%, lebih lambat dibanding kenaikan 0,3% pada bulan-bulan sebelumnya.
Meski begitu, inflasi secara keseluruhan tercatat meningkat 0,4% pada Desember, angka tertinggi sejak Maret 2024, terutama karena kenaikan harga energi yang menyumbang lebih dari 40% terhadap inflasi tersebut.
Pasar kripto merespons positif kabar ini dengan apresiasi harga Bitcoin yang menembus level USD100 ribu. Kenaikan tersebut juga diikuti oleh Ethereum, XRP, SOL, XLM, dan mayoritas aset kripto lainnya. Penguatan ini menunjukkan optimisme investor terhadap kondisi pasar yang lebih stabil.
“Penurunan inflasi inti memberikan sinyal positif bagi pasar kripto, terutama karena ekspektasi kebijakan suku bunga yang lebih longgar dari The Fed,” kata Fahmi dalam keterangannya, Jumat (17/1/2025).
Sementara itu, di pasar saham AS, indeks Nasdaq Composite memimpin dengan kenaikan 2,17%, diikuti oleh S&P 500 yang naik 1,62%, serta Dow Jones Industrial Average dengan penguatan 1,5%. Saham sektor teknologi dan perbankan menjadi pendorong utama reli ini.
Beberapa saham besar yang mencatatkan kenaikan signifikan di antaranya adalah Tesla (5,76%), Meta Platforms (4,76%), Citigroup (6,1%), Wells Fargo (6,1%), dan Goldman Sachs (4,8%).
The Fed telah memangkas suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin sejak memulai siklus pelonggaran pada September tahun lalu. Menurut Fahmi, dengan inflasi inti yang melambat, terdapat kemungkinan The Fed akan kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akhir bulan ini.
Namun, Fahmi memperingatkan bahwa jika penurunan suku bunga dilakukan, proyeksi kebijakan di masa depan akan semakin sulit diprediksi. “Outlook kebijakan suku bunga hingga beberapa bulan ke depan akan relatif tidak pasti jika pemangkasan kembali dilakukan,” tambahnya.
Pelantikan Presiden AS terpilih, Donald Trump, pada 20 Januari mendatang turut menjadi sorotan. Fahmi menilai bahwa janji Trump untuk memangkas pajak dapat memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi.
Namun, kebijakan proteksionis dan pembatasan imigrasi yang ia usung berpotensi meningkatkan biaya produksi serta mengganggu rantai pasokan.
“Kebijakan tersebut dapat menambah tekanan inflasi. Jika suku bunga kembali diturunkan, kondisi ini dapat memperburuk ketidakpastian arah kebijakan ekonomi di masa depan,” jelas Fahmi.
Meskipun pasar saat ini menunjukkan tren bullish, Fahmi menyarankan agar investor tetap berhati-hati. Menurutnya, reli pasar saham dan kripto dapat berlanjut hingga keputusan kebijakan suku bunga diumumkan. Namun, jika The Fed kembali memberikan proyeksi kebijakan yang lebih ketat, pasar bisa mengalami tekanan.
“Momentum pelantikan Trump serta gebrakan awal kebijakannya bagi industri dan pasar kripto akan menjadi faktor penting dalam memperkuat reli pasar,” ujarnya.
Fahmi menegaskan, meskipun kondisi pasar saat ini positif, investor harus tetap responsif terhadap perkembangan situasi. “Kehati-hatian serta kemampuan membaca dinamika pasar sangat diperlukan agar pertumbuhan portofolio investasi tetap terjaga,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









