Tok! Uni Eropa Sahkan Tarif Impor EV China Jadi 45,3 Persen
Demi Ermansyah | 31 Oktober 2024, 11:40 WIB

AKURAT.CO Uni Eropa (UE) telah mengambil langkah signifikan dalam menghadapi peningkatan impor kendaraan listrik dari China dengan menaikkan tarif impor hingga 45,3% pada mobil-mobil buatan negara Panda tersebut.
Di mana keputusan ini diumumkan dalam Jurnal Resmi UE pada 29 Oktober dan berlaku pada 30 Oktober, adalah hasil dari penyelidikan anti-subsidi yang berlangsung selama lebih dari satu tahun.
Melansir dari Reuters, Kamis (31/10/2024) berdasarkan peraturan baru tarif tambahan akan berkisar antara 7,8% untuk Tesla hingga 35,3% untuk perusahaan China SAIC, yang kemudian ditambahkan pada tarif standar 10% untuk mobil impor di kawasan Uni Eropa.
Baca Juga: Uni Eropa Tolak Proposal Harga Minimum EV China Rp592,8 Juta
Komisi Eropa menganggap tarif ini sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai subsidi tidak adil dari pemerintah China, yang mencakup pendanaan dan subsidi istimewa untuk akses terhadap tanah, baterai, dan bahan baku dengan harga di bawah standar pasar.
Komisi Eropa menganggap tarif ini sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai subsidi tidak adil dari pemerintah China, yang mencakup pendanaan dan subsidi istimewa untuk akses terhadap tanah, baterai, dan bahan baku dengan harga di bawah standar pasar.
Usut punya usut, China dikatakan memiliki kapasitas cadangan 3 juta kendaraan listrik per tahun dua kali lipat dari kebutuhan di pasar Eropa. Dengan kebijakan tarif di Amerika Serikat dan Kanada yang mencapai hingga 100%, Eropa menjadi target utama bagi produsen kendaraan listrik China.
Langkah ini sejalan dengan perubahan sikap Uni Eropa terhadap China dalam lima tahun terakhir. Meski China tetap dipandang sebagai mitra strategis di sejumlah sektor, UE juga memandangnya sebagai pesaing, terutama dalam industri kendaraan listrik yang berkembang pesat.
Langkah ini sejalan dengan perubahan sikap Uni Eropa terhadap China dalam lima tahun terakhir. Meski China tetap dipandang sebagai mitra strategis di sejumlah sektor, UE juga memandangnya sebagai pesaing, terutama dalam industri kendaraan listrik yang berkembang pesat.
Namun, sikap ini tidak sepenuhnya bulat di antara negara-negara anggota. Jerman, yang merupakan pusat industri otomotif UE, menentang kebijakan ini dan lebih memilih jalan negosiasi dengan China untuk meredakan ketegangan perdagangan.
Bagi industri otomotif di negara-negara seperti Jerman, langkah ini memicu kekhawatiran, mengingat China bisa membalas dengan tarif impor yang tinggi pada kendaraan berbahan bakar bensin, yang akan berdampak besar pada ekspor mereka. Para produsen mobil di Jerman juga mengkritik kebijakan ini, menyadari bahwa kebijakan balasan dari China dapat semakin memperburuk kondisi mereka.
Bagi industri otomotif di negara-negara seperti Jerman, langkah ini memicu kekhawatiran, mengingat China bisa membalas dengan tarif impor yang tinggi pada kendaraan berbahan bakar bensin, yang akan berdampak besar pada ekspor mereka. Para produsen mobil di Jerman juga mengkritik kebijakan ini, menyadari bahwa kebijakan balasan dari China dapat semakin memperburuk kondisi mereka.
Selain itu, ketidakpastian ini muncul saat industri di Jerman sedang menghadapi tekanan domestik, dengan ribuan pekerja mogok menuntut kenaikan upah, sementara Volkswagen tengah mempertimbangkan penutupan pabrik untuk pertama kalinya dalam hampir satu abad sejarahnya.
Namun, tidak semua pihak di UE menolak kebijakan ini. Asosiasi mobil Prancis, PFA, menyambut baik langkah bea masuk yang diambil oleh Uni Eropa, menyatakan dukungannya terhadap perdagangan bebas yang adil.
Namun, tidak semua pihak di UE menolak kebijakan ini. Asosiasi mobil Prancis, PFA, menyambut baik langkah bea masuk yang diambil oleh Uni Eropa, menyatakan dukungannya terhadap perdagangan bebas yang adil.
Dengan meningkatnya pangsa pasar kendaraan China di Eropa dari di bawah 1% pada 2019 menjadi 8% saat ini, dan diperkirakan bisa mencapai 15% pada 2025, kebijakan ini diharapkan dapat melindungi industri otomotif dalam negeri dari kompetisi yang tidak setara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi







