Uni Eropa Tolak Proposal Harga Minimum EV China Rp592,8 Juta
Demi Ermansyah | 16 Oktober 2024, 12:47 WIB

AKURAT.CO Negosiasi antara Uni Eropa dan China terkait kendaraan listrik buatan China memasuki babak baru setelah Brussels menolak proposal China yang mengusulkan harga minimum EUR30.000 setara Rp592,8 juta (kurs Rp16.938 per EUR) bagi mobil listrik buatan China di pasar Eropa.
Penolakan ini semakin memperkuat ancaman tarif yang direncanakan oleh Uni Eropa, yang diperkirakan akan berlaku bulan depan. Beijing sebelumnya mengajukan usulan tersebut dengan harapan dapat menghindari pemberlakuan tarif tambahan oleh Uni Eropa.
Kendaraan listrik buatan China telah menjadi salah satu produk ekspor utama China ke Eropa, dan penetapan tarif dapat merugikan produsen kendaraan listrik asal negara Panda tersebut, termasuk beberapa perusahaan raksasa seperti Nio, BYD, dan Xpeng. Penetapan harga minimum juga dimaksudkan untuk menjaga persaingan yang adil di pasar Eropa yang semakin ketat.
Baca Juga: Volkswagen Minta Uni Eropa Pertimbangkan Tarif EV China
Meski begitu, Uni Eropa menolak proposal tersebut, dengan alasan bahwa penetapan harga minimum dapat menghambat persaingan bebas dan merugikan konsumen. Langkah ini semakin memperburuk situasi perdagangan antara kedua kekuatan ekonomi global, terutama di sektor otomotif yang telah menjadi pusat perhatian.
Di sisi lain, Beijing mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa yang beroperasi di China juga terlibat dalam usulan komitmen harga ini. Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa produsen Eropa di Beijing telah memberi wewenang kepada Kamar Dagang China untuk Mesin dan Elektronik (China Chamber of Commerce for Machinery and Electronics) guna mengajukan proposal harga yang mencerminkan kepentingan industri secara keseluruhan.
Jika tarif Uni Eropa diterapkan, produsen kendaraan listrik China akan menghadapi tekanan yang lebih besar untuk bersaing di pasar Eropa. Tarif tersebut diperkirakan akan meningkatkan harga kendaraan listrik asal Beijing tersebut, yang saat ini telah menjadi pilihan populer di antara konsumen Eropa karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan merek-merek lokal.
Sementara China terus mendesak agar negosiasi tarif tetap dilakukan secara bilateral, kekhawatiran akan dampak tarif ini semakin meningkat. Pengamat perdagangan internasional memperkirakan bahwa tarif baru dapat memicu perang dagang antara kedua pihak, yang pada akhirnya akan merugikan kedua belah pihak.
Di tengah ketegangan ini, Uni Eropa tetap berfokus pada perlindungan pasar internalnya dari produk-produk yang dianggap memiliki harga dumping. Brussels ingin memastikan bahwa persaingan di pasar Eropa tetap sehat, tanpa adanya produk yang dijual di bawah biaya produksi, yang dapat merusak industri otomotif lokal.
Tarif baru yang rencananya akan diberlakukan pada bulan depan dapat menjadi titik balik dalam hubungan dagang China dan Uni Eropa. Jika negosiasi gagal mencapai titik temu, sektor kendaraan listrik mungkin akan menjadi salah satu medan persaingan dagang yang semakin memanas di masa depan.
Meski begitu, Uni Eropa menolak proposal tersebut, dengan alasan bahwa penetapan harga minimum dapat menghambat persaingan bebas dan merugikan konsumen. Langkah ini semakin memperburuk situasi perdagangan antara kedua kekuatan ekonomi global, terutama di sektor otomotif yang telah menjadi pusat perhatian.
Di sisi lain, Beijing mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa yang beroperasi di China juga terlibat dalam usulan komitmen harga ini. Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa produsen Eropa di Beijing telah memberi wewenang kepada Kamar Dagang China untuk Mesin dan Elektronik (China Chamber of Commerce for Machinery and Electronics) guna mengajukan proposal harga yang mencerminkan kepentingan industri secara keseluruhan.
Jika tarif Uni Eropa diterapkan, produsen kendaraan listrik China akan menghadapi tekanan yang lebih besar untuk bersaing di pasar Eropa. Tarif tersebut diperkirakan akan meningkatkan harga kendaraan listrik asal Beijing tersebut, yang saat ini telah menjadi pilihan populer di antara konsumen Eropa karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan merek-merek lokal.
Sementara China terus mendesak agar negosiasi tarif tetap dilakukan secara bilateral, kekhawatiran akan dampak tarif ini semakin meningkat. Pengamat perdagangan internasional memperkirakan bahwa tarif baru dapat memicu perang dagang antara kedua pihak, yang pada akhirnya akan merugikan kedua belah pihak.
Di tengah ketegangan ini, Uni Eropa tetap berfokus pada perlindungan pasar internalnya dari produk-produk yang dianggap memiliki harga dumping. Brussels ingin memastikan bahwa persaingan di pasar Eropa tetap sehat, tanpa adanya produk yang dijual di bawah biaya produksi, yang dapat merusak industri otomotif lokal.
Tarif baru yang rencananya akan diberlakukan pada bulan depan dapat menjadi titik balik dalam hubungan dagang China dan Uni Eropa. Jika negosiasi gagal mencapai titik temu, sektor kendaraan listrik mungkin akan menjadi salah satu medan persaingan dagang yang semakin memanas di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Ijazah Gibran Dipersoalkan, Politisi PSI Singgung Riwayat Pendidikan BJ Habibie
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








