Akurat Logo

Demi Stimulus Ekonomi, Jepang Rela Kerek Utang?

Demi Ermansyah | 5 Oktober 2024, 18:15 WIB
Demi Stimulus Ekonomi, Jepang Rela Kerek Utang?

AKURAT.CO Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menginstruksikan penyusunan paket langkah-langkah ekonomi untuk meredam dampak inflasi menjelang pemilu, namun kebijakan ini menambah kekhawatiran mengenai beban utang negara yang sudah sangat besar. 

Di mana paket stimulus yang dirancang untuk mendukung masyarakat dan perekonomian regional ini akan membutuhkan anggaran tambahan, yang akan diajukan ke parlemen setelah pemilu pada 27 Oktober mendatang.
 
“Pemerintah harus merespons kekhawatiran publik, dan anggaran tambahan adalah salah satu cara untuk melakukannya,” kata Menteri Keuangan Katsunobu Kato, dalam konferensi pers, dikutip Sabtu (5/10/2024).
 
 
Meski demikian, Kato belum memberikan rincian spesifik terkait ukuran anggaran dan langkah-langkah lainnya. Pemerintah Jepang secara rutin mengeluarkan anggaran tambahan untuk mendukung perekonomian, terutama di masa-masa krisis. Namun, kebijakan tersebut telah menambah beban utang Jepang yang terus meningkat. 
 
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), beban utang Jepang pada 2024 telah mencapai 255% dari produk domestik bruto (PDB), yang merupakan salah satu tingkat utang tertinggi di dunia. Pembayaran utang tahunan Jepang kini sudah memakan sekitar seperempat dari anggaran tahunan reguler, dan situasi ini diperkirakan akan terus memburuk seiring kenaikan suku bunga. 
 
"Kebijakan fiskal ini memang diperlukan untuk mendukung masyarakat, namun beban utang yang semakin besar akan menjadi tantangan jangka panjang bagi stabilitas keuangan negara,” ujar seorang pengamat ekonomi dari Tokyo University.
 
Meski anggaran stimulus tersebut sudah diantisipasi sejak musim gugur, kebijakan fiskal seperti ini memberikan tekanan besar pada anggaran negara. Pendahulu Ishiba, Fumio Kishida, sebelumnya juga menjanjikan bahwa langkah-langkah tambahan akan diambil sebelum akhir tahun untuk meredam dampak ekonomi yang masih terasa pasca-pandemi.
 
Paket stimulus ini juga mencakup subsidi untuk tagihan listrik guna mengurangi dampak kenaikan harga energi pada rumah tangga, sebagaimana dalam paket-paket sebelumnya.  Selain itu, pemerintah juga mendorong upaya hemat energi dan memberikan dukungan khusus untuk wilayah yang terdampak bencana alam, seperti wilayah Noto, melalui cadangan darurat.
 
Menteri Revitalisasi Ekonomi, Ryosei Akazawa, akan memimpin penyusunan paket stimulus ini dengan bekerja sama dengan partai berkuasa. Skala paket ekonomi ini memang telah menyusut sejak puncak pandemi, tetapi kebijakan ini tetap menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk meningkatkan dukungan publik dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi menjelang pemilu.
 
Para ahli menyatakan bahwa meski stimulus ekonomi dapat memberikan dampak positif dalam jangka pendek, perlu ada upaya yang lebih sistematis untuk mengurangi ketergantungan pada utang. "Jepang harus mempertimbangkan reformasi struktural agar tidak terus-menerus tergantung pada kebijakan fiskal yang memicu peningkatan utang negara,” tambah pengamat tersebut.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.