Akurat Logo

Penurunan Kelas Menengah dan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Demi Ermansyah | 17 September 2024, 16:19 WIB
Penurunan Kelas Menengah dan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

AKURAT.CO Jumlah penduduk kelas menengah yang berkurang selama era Jokowi menggambarkan dinamika sosial-ekonomi yang kompleks di Indonesia. Berdasarkan kriteria yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan merujuk pada standar Bank Dunia, terdapat pengurangan sebesar 9,48 juta orang dari golongan kelas menengah, yakni dari 57,33 juta orang pada tahun 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. 

Menurut Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, menjelaskan bahwasanya jika dilihat dari kacamata ekonomi, kelas menengah memiliki peran vital dalam mendorong pertumbuhan melalui sisi permintaan agregat. Meningkatnya konsumsi dari kelas menengah berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, memperkuat kesejahteraan masyarakat, serta membantu menurunkan tingkat ketimpangan. 
 
"Sebab jika dilihat secara makro, konsumsi kelas menengah juga berfungsi sebagai penyangga perekonomian, yang memperkuat daya tahan terhadap krisis ekonomi. Di sisi penawaran, kelas menengah menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan berkontribusi terhadap investasi modal manusia, seperti dalam pendidikan, yang kemudian menumbuhkan jumlah kelas menengah baru di masa depan," ungkapnya pada saat konferensi pers bersama media di Jakarta, Selasa (17/9/2024). 
 

Namun, tambahnya, ketika jumlah kelas menengah mengalami penurunan, dampak yang timbul bersifat multidimensional. Berkurangnya jumlah kelas menengah bukan hanya mengindikasikan adanya permasalahan dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperburuk ketahanan ekonomi nasional. 
 
"Penurunan ini menciptakan risiko tinggi terhadap stagnasi konsumsi, yang merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Tanpa pertumbuhan konsumsi yang signifikan, target ambisius untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% tampaknya semakin sulit tercapai. Selain itu, sektor investasi kecil dan menengah, yang sangat bergantung pada konsumsi domestik, juga akan terdampak, memperparah situasi ekonomi," paparnya.
 
Tak hanya itu saja, tambah Awalil, menurunnya kelas menengah juga membawa konsekuensi serius pada aspek sosial. Salah satu dampak paling menonjol adalah meningkatnya kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi. Ketika kelas menengah berkurang, kelompok yang lebih rentan terhadap kemiskinan, terutama mereka yang berada di dekat garis kemiskinan, menjadi semakin terancam. 
 
"Meskipun sebagian besar dari mereka mendapatkan dukungan dari program bantuan sosial, ketergantungan ini justru memperlihatkan betapa rapuhnya kondisi mereka dalam menghadapi perubahan ekonomi," paparnya.

Salah satu ambisi besar pemerintahan Jokowi, ucapnya kembali, yakni mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Namun, dengan berkurangnya kelas menengah, target ini menjadi semakin sulit untuk dicapai. 

"Konsumsi domestik yang melemah berarti bahwa dorongan terbesar bagi pertumbuhan ekonomi, yaitu konsumsi rumah tangga, akan kehilangan kekuatannya. Investasi skala kecil dan menengah, yang sering kali bergantung pada konsumsi domestik, juga akan terpengaruh, memperburuk kondisi ekonomi," tegasnya.

Bagi pemerintah, menciptakan strategi untuk menghidupkan kembali kelas menengah adalah tantangan besar. Kebijakan-kebijakan yang pro-kelas menengah, seperti peningkatan akses pendidikan, peluang kerja yang lebih baik, dan pemberdayaan ekonomi melalui sektor usaha kecil dan menengah, harus menjadi prioritas utama untuk mengatasi masalah ini.

"Dengan demikian, untuk menghindari dampak yang lebih buruk, diperlukan kebijakan ekonomi yang fokus pada penguatan kelas menengah, meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan, serta memperluas kesempatan ekonomi bagi kelompok rentan. Tanpa langkah strategis yang konkret, perekonomian Indonesia akan semakin terjebak dalam ketidakstabilan dan ketidakpastian di masa mendatang," ucapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.