Akurat Logo

Ekonom Sarankan BI Pertahankan Suku Bunga Meski Dolar AS Menguat, Ini Alasannya

Silvia Nur Fajri | 24 April 2024, 14:21 WIB
Ekonom Sarankan BI Pertahankan Suku Bunga Meski Dolar AS Menguat, Ini Alasannya

AKURAT.CO Ekonom Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), menyarankan agar Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 6%.

Langkah ini dianggap penting untuk meredam dampak ketegangan politik di Timur Tengah yang sedang mempengaruhi nilai tukar rupiah.

"Rupiah saat ini sedang menghadapi tekanan mata uang yang sangat besar dan lonjakan arus keluar modal dalam dua minggu terakhir, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky, dikutip Rabu (24/4/2024).

Kemudian, Riefky menjelaskan bahwa dalam dua minggu terakhir, rupiah mengalami tekanan signifikan dan terjadi peningkatan arus keluar modal. Ketegangan antara Iran dan Israel dipandang sebagai penyebab utama dari situasi ini.

Hal tersebut juga menciptakan kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve System atau The Fed, mungkin akan menunda kenaikan suku bunga acuannya.

Baca Juga: BI Rate Ditahan, Ekonom Indef: Untuk Stabilisasi Rupiah

Efeknya, investor cenderung menarik portofolio mereka dari pasar modal domestik. Selama minggu pertama pasca-libur Lebaran, arus modal keluar mencapai USD490 juta. Sedangkan jumlah modal keluar selama satu bulan terakhir mencapai USD2,11 miliar, menjadi jumlah modal keluar bulanan terbesar sejak September lalu.

Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,03% dari 6,67% pada bulan sebelumnya, mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Sementara imbal hasil SUN tenor satu tahun juga meningkat menjadi 6,33% dari 6,19% pada bulan sebelumnya.

"Imbasnya, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun meningkat menjadi 7,03 persen dari 6,67 persen pada bulan sebelumnya, mencapai titik tertingginya dalam lima bulan terakhir," jelasnya.

Sementara itu, BI telah merespons dengan meningkatkan intervensi moneter melalui strategi triple intervention. Strategi ini melibatkan intervensi aktif di pasar spot valuta asing, pembelian Surat Berharga Negara (SBN), dan intervensi di pasar domestic non-delivery forward (DNDF).

Meskipun tekanan eksternal cukup besar, intervensi yang dilakukan BI dalam seminggu terakhir berhasil menstabilkan nilai tukar rupiah, meskipun hanya dalam kisaran Rp16.200 per dolar AS.

Rupiah mengalami depresiasi sekitar 2,98% month-to-month (mtm) atau 5,5% year-to-date (ytd) terhadap dolar AS. Hal ini menjadikannya salah satu mata uang dengan performa terburuk dibandingkan negara sejawat, hanya lebih baik dari Lira Brazil dalam satu bulan terakhir.

Meskipun masih ada ruang untuk menaikkan suku bunga acuan, Riefky menegaskan bahwa keputusan tersebut mungkin bukan langkah terbaik yang harus diambil saat ini.

"Walaupun terdapat ruang untuk kenaikan suku bunga acuan, keputusan menaikkan suku bunga acuan BI nampaknya bukanlah langkah ideal yang perlu diambil saat ini," ungkap Rifky.

Konflik terbaru antara Iran dan Israel, yang dimulai dari serangan terhadap Konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April lalu, serta serangan balasan Iran terhadap Israel dengan menembakkan ratusan rudal balistik dan pesawat tanpa awak (drone) pada 13 April, telah memperumit situasi geopolitik di Timur Tengah.

Pada 19 April dini hari waktu setempat, Israel juga meluncurkan rudal yang diduga bertujuan ke pangkalan udara dekat Kota Isfahan, Iran.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.