Akurat Logo

Ekonom Ingatkan 5 Dampak Ekonomi Konflik Iran-Israel

Silvia Nur Fajri | 17 April 2024, 12:30 WIB
Ekonom Ingatkan 5 Dampak Ekonomi Konflik Iran-Israel

AKURAT.CO Serangan yang dilakukan Iran terhadap Israel tidak hanya menimbulkan ketegangan politik di Timur Tengah, tetapi juga memberikan dampak signifikan bagi ekonomi Indonesia.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyoroti lima dampak utama yang harus dipertimbangkan oleh pelaku pasar dan pengambil kebijakan ekonomi di Indonesia.

"Serangan Iran ke Israel telah menciptakan gejolak pasar minyak mentah, dengan harga melonjak hingga mencapai 85,6 dolar AS per barel atau meningkat 4,4 persen secara year on year," ungkap Bhima kepada akurat, Rabu (17/4/2024).

Baca Juga: Konflik Iran-Israel, Menko Airlangga Sebut Ekonomi Indonesia Lebih Baik Dibanding Negara Lain di Kawasan Asia

Sebagai negara produsen minyak terbesar ke-7 di dunia, Indonesia terancam terpengaruh oleh ketidakpastian produksi dan distribusi minyak dari Iran.

Bhima juga menyoroti potensi keluarnya aliran investasi asing dari negara berkembang akibat meningkatnya risiko geopolitik. 

"Investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan dolar AS, yang berpotensi memperlemah kurs rupiah hingga mencapai Rp17.000 per dolar AS," tegasnya.

Selain itu, Bhima juga mengingatkan akan gangguan terhadap kinerja ekspor Indonesia ke wilayah Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Hal ini diperkirakan akan mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi sekitar 4,6-4,8% tahun ini.

"Bukan hanya itu, serangan tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena kenaikan harga energi," tambah Bhima. 

Lalu, gangguan pada rantai pasok global juga dapat memaksa produsen untuk mencari bahan baku dari sumber yang lebih mahal, yang akhirnya akan meningkatkan biaya produksi yang akan ditransfer kepada konsumen.

Selain itu, ia juga menyoroti bahwa suku bunga yang tinggi akan bertahan lebih lama, bahkan dengan risiko kenaikan lebih lanjut

"Bagi masyarakat yang berencana membeli kendaraan bermotor atau rumah melalui skema kredit, mereka harus bersiap menghadapi biaya bunga yang lebih tinggi," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.