Jelang Pemilu Serentak, Rupiah Ditutup Turun 9 Poin ke Rp15.603

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 9 poin ke Rp15.603 pada perdagangan Selasa, 13 Februari 2024 menjelang pemilu serentak (capres-cawapres, DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/ kota, DPD) besok.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah tertekan sentimen internal dan eksternal.
Dari internal, sentimen pemilu dan pilpres diperkirakan akan mewarnai pergerakan pasar keuangan terutama mata uang garuda, terlebih pilpres kali ini sangat penting mengingat sekitar 204,81 juta warga Indonesia yang terdaftar memilih akan menentukan siapa presiden Indonesia berikutnya.
Baca Juga: Jelang Rilis Data CPI AS, Rupiah Naik 40 Poin ke Rp14.595
"Masih ketatnya persaingan inilah yang diperkirakan akan sangat mempengaruhi laju pasar keuangan dalam negeri pekan ini. Diperkirakan pasar akan volatile sebelum pemilu dan kemungkinan bisa bergerak menguat atau sebaliknya melemah tajam pada Kamis pekan ini tergantung pada hasil quick count atau hitung cepat pilpres," ujar Ibrahim dikutip Selasa (13/2/2024).
Hasil quick count setidaknya akan menunjukkan apakah pilpres Indonesia akan berlangsung satu atau dua putaran. Pelaksanaan pilpres satu atau dua putaran ini akan mempengaruhi sentimen investasi, terutama dari investor asing. Pasalnya, belum ada kejelasan mengenai kebijakan yang akan diambil ke depan.
Dari eksternal, jelang laporan CPI pada Selasa malam, Federal Reserve Bank of New York pada hari Senin merilis Survei Ekspektasi Konsumen bulan Januari, yang menunjukkan inflasi satu tahun dan lima tahun dari sekarang tidak berubah pada angka masing-masing 3% dan 2,5%, sedangkanproyeksi kenaikan inflasi tiga tahun dari sekarang turun menjadi 2,4%, terendah sejak Maret 2020, dari 2,6% pada bulan Desember.
Penjualan ritel untuk bulan Januari akan dirilis pada hari Kamis, dengan para ekonom memperkirakan penurunan 0,1% untuk bulan Januari, dari kenaikan 0,6% di bulan Desember, menurut jajak pendapat Reuters.
"Perubahan ekspektasi mengenai kapan dan seberapa cepat bank sentral akan menurunkan suku bunga seiring dengan penurunan inflasi merupakan pendorong yang signifikan terhadap pasar mata uang saat ini," imbuhnya.
Sementara itu data ketenagakerjaan yang kuat pada bulan ini sebagian besar telah mengesampingkan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed pada bulan Maret, dan pasar melihat pergerakan pada bulan Mei sebagai hal yang lebih mungkin terjadi.
Di tempat lain, ada banyak data yang dirilis minggu ini di Inggris, termasuk angka inflasi dan produk domestik bruto (PDB), yang diperkirakan akan dirilis pada hari Rabu, yang kemungkinan besar juga akan mempengaruhi opini mengenai kapan Bank of England akan mulai menurunkan suku bunganya. Saat ini terlihat tertinggal dari The Fed dan ECB.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








