Rupiah Naik Tipis 6 Poin Jelang Rilis Data Indeks Harga Konsumen AS

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat tipis 6 poin ke level Rp15.694 pada perdagangan Selasa, 14 November 2023 jelang rilis data harga konsumen utama (CPI AS) dirilis hari ini.
Angka tersebut diperkirakan menunjukkan penurunan inflasi hingga bulan Oktober, setelah inflasi meningkat melampaui ekspektasi selama dua bulan terakhir.
Pengamat Pasar Uang Dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah didorong sentimen eksternal dan internal.
Baca Juga: Rupiah Turun 5 Poin Ke Rp15.655 Meski Pemerintah Rilis Paket Kebijakan Ekonomi
Dari eksternal, pasar saat ini tengah fokus pada data inflasi indeks utama harga konsumen AS atau US CPI. Angka tersebut juga muncul tak lama setelah serangkaian pejabat Federal Reserve memperingatkan bahwa inflasi yang tinggi dapat memberi bank lebih banyak dorongan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.
"Suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama diperkirakan akan melemahkan asset-aset berisiko," ujar Ibrahim dikutip Selasa (14/11/2023).
Sementara itu, data yang dirilis hari ini diperkirakan menunjukkan zona euro memasuki resesi teknis pada kuartal ketiga.
Selain itu, kekhawatiran terhadap China juga membebani sentimen regional, karena data menunjukkan perlambatan lebih lanjut dalam aktivitas pinjaman di negara tersebut hingga bulan Oktober, data menunjukkan pada hari Senin.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat likuiditas di negara tersebut menurun meskipun ada langkah-langkah stimulus baru-baru ini dari pemerintah.
Isyarat ekonomi lebih lanjut dari negara ini akan terlihat pada minggu ini, dengan pembacaan produksi industri, penjualan ritel dan investasi aset tetap akan dirilis pada hari Rabu.
Sentimen Internal Rupiah
Dari internal, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik terkini, Bank Indonesia (BI) melihat peluang sejumlah indikator ekonomi makro mungkin melemah pada tahun 2024. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan akan berada di kisaran 5,00% yoy. Ini lebih lambat bila dibandingkan dengan prognosa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 dalam ATBI 2023 yang sebesar 5,01% yoy.
Meski demikian, optimistis ada sejumlah hal yang mampu mendorong kekuatan pertumbuhan ekonomi tahun depan. Terutama karena kenaikan gaji aparatur sipil negara (ASN), penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu), dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kemudian tingkat inflasi pada tahun 2024 diperkirakan sebesar 3,20% yoy.
Ini juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan prognosa inflasi dalam ATBI 2023 yang sebesar 2,84%. Peningkatan inflasi pada tahun depan sejalan dengan permintaan yang masih baik dan dampak dari nilai tukar yang lebih lemah.
Ada 6 faktor dari kondisi global yang dapat berimplikasi pada ekonomi domestik. Sehingga, asumsi makroekonomi dilakukan penyesuaian. Pertama, pertumbuhan ekonomi global melemah atau slower growth. Kedua, inflasi global yang masih tinggi meski sudah dilakukan pengetatat moneter, hal ini tentu berdampak pada kondisi ekonomi global yang ketiga yakni, suku bunga acuan tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kelima, penguatan dolar dan terakhir kembalinya aliran modal ke negara maju atau cash is the king.
Ini menyebabkan suku bunga negara maju khususnya di Amerika itu semakin tinggi dan kemungkinan akan lama, diikuti dengan mata uang dolar yang sangat kuat atau strong dolar dan juga pelarian modal ke aset global yang liquid atau cash is the king.
"Guna untuk menjaga keenam faktor tersebut, maka Bank Indonesia akan Bersama-sama dengan pemerintah akan berupaya dalam menjaga sistem keuangan, dengan bergandeng tangan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)," kata Ibrahim.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









