Akurat

5 Fakta Trihatma Kusuma Haliman, Pemilik Agung Podomoro Land Salah Satu 'Raja' Properti di Indonesia

| 17 Desember 2022, 10:25 WIB
5 Fakta Trihatma Kusuma Haliman, Pemilik Agung Podomoro Land Salah Satu 'Raja' Properti di Indonesia

AKURAT.CO Nama perusahaan Agung Podomoro Land tentu sudah tidak asing dalam dunia properti di Indonesia. Perusahaan ini telah menggarap sejumlah proyek-proyek besar di Tanah Air sejak didirikan 53 tahun lalu. Pendirinya ialah Anton Haliman, ayah Trihatma Kusuma Haliman.

Awalnya perusahaan ini PT Indofica Housing yang kemudian diubah menjadi PT Agung Podomoro Land Tbk., setelah melakukan restrukturisasi perusahaan. Anton menyerahkan nahkoda perusahaan kepada Trihatma Kusuma Haliman yang ternyata berhasil membawa perusahaan ini merajai bisnis properti di Indonesia. Lantas, seperti apa sepak terjang sang pemilik Agung Podomoro Land tersebut?

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta mengenai Trihatma Kusuma Haliman.

1. Lulusan Teknik Arsitektur Jerman

Trihatma Kusuma Haliman merupakan kelahiran Jakarta, 6 Januari 1952. Ia menempuh pendidikan tinggi di  Universitas Trier, Kaiserlautern, Jerman dengan jurusan Teknik Arsitektur. Ayahnya, Anton Haliman, mendirikan PT Indofica Housing yang merupakan cikal bakal Agung Podomoro di tahun 1969.

Proyek pertamanya yaitu menggarap sebuah kompleks perumahan di kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Kemudian di tahun 1973, ketika Trihatma sedang menuntut ilmu di Jerman, ia dipanggil ayahnya untuk membantu mengembangkan perusahaannya itu.

2. Memulai dari bawah sampai dipercaya menjadi pemimpin

Walaupun Trihatma merupakan anak pemilik perusahaan, ia memulai kariernya dari nol dan ditempatkan di berbagai divisi sehingga bisa memahami perusahaan dengan menyeluruh. Proses tersebut dilalui dengan pengarahan dan pengawasan sang Ayah. Hingga akhirnya, pada tahun 1986, Anton Haliman memercayakan tampuk kepemimpinan Indofica kepada Trihatma.

3. Sukses menggarap berbagai proyek

Trihatma dikenal sebagai pemimpin yang berani mengambil resiko dan visioner. Di saat para pengembang properti lain tidak berani atau menghindari lahan tertentu, ia malah nekat mengembangkannya menjadi proyek yang sukses. Salah satu contohnya yaitu Bukit Gading Mediterania, tanah seluas 14 hektare di lingkungan Kelapa Gading yang dibelinya beberapa tahun selepas krisis moneter tahun 1998.

Sempat tersendat di awal pengerjaannya, Trihatma kemudian berhasil menggarap proyek tersebut. Beberapa proyek lain yang sukses digarap perusahaan yang dinahkodai Trihatma antara lain Taman Sunter Utama (Blok O), Griya Sunter, Villa Danau Indah, dan masih banyak lagi.

4. Modernisasi sistem kerja hingga ekspansi perusahaan

Setelah krisis moneter, Trihatma mengubah sistem kerja perusahaan menjadi lebih modern dengan menerapkan ISO 9001. Pada tanggal 30 Juli 2004, Indofica mendirikan PT. Tiara Metropolitan Jaya yang mengerjakan proyek Podomoro City. Lalu di tahun 2010, Trihatma mengubah nama Indofica menjadi Agung Podomoro Land yang dipakai sampai saat ini. Di tahun yang sama perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hanya kurun tiga tahun, karyawan Agung Podomoro yang semula berjumlah 200 orang menjadi 1.600 orang. Di bawah kepemimpinannya, Agung Podomoro terus mengembangkan sayap ke berbagai kota di penjuru negeri. Tercatat, pada tahun 2020, perusahaan ini telah memayungi lebih dari 40 anak perusahaan.

5. Meraih berbagai penghargaan

Kiprah Trihatma dalam bisnis properti memang tidak diragukan lagi. Sepanjang kariernya, ia telah meraih beragam penghargaan, di antaranya ialah The Performing Property CEO dari Warta Ekonomi Awards 2013, Most Admired Company 2013 dari Warta Ekonomi Awards 2013, Property Man of The Year dalam Indonesia Properti & Bank Awards 2012, Highly Commended Retail Development dalam International Property Awards 2012, dan sebagainya. Nama Trihatma Kusuma Haliman juga pernah tercatat dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada urutan ke-50, dengan kekayaannya senilai US$ 500 juta atau sekitar Rp7,7 triliun (kurs Rp15.598).

Sejak 2016 Trihatma tidak lagi menjabat sebagai CEO perusahaan, namun demikian ia masih menjadi pemegang saham di perusahaan yang didirikan oleh ayahnya itu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.