Mengenal Attachment Avoidant: Pola Hubungan yang Perlu Diwaspadai

AKURAT.CO Attachment avoidant atau gaya keterikatan menghindar kini menjadi topik yang banyak dibicarakan, terutama di kalangan anak muda yang sedang menjalin hubungan asmara.
Gaya ini biasanya muncul dalam hubungan yang tampak tidak seimbang secara emosional.
Apa itu Attachment Avoidant?
Attachment avoidant merupakan gaya keterikatan yang ditandai dengan kecenderungan untuk menghindari kedekatan, baik secara emosional maupun fisik.
Individu dengan gaya ini lebih nyaman mengandalkan diri sendiri dan kerap merasa tidak nyaman saat harus membuka diri secara emosional kepada orang lain.
Mereka sering tampak percaya diri, namun sebenarnya menjaga jarak untuk melindungi diri dari potensi luka atau penolakan.
Dalam suatu hubungan, orang dengan attachment avoidant cenderung menghindari ketergantungan dan memilih menyelesaikan segala sesuatu secara mandiri.
Keinginan untuk menjaga jarak ini seringkali menjadi tantangan dalam membangun koneksi emosional yang sehat dengan pasangan.
Ciri-Ciri Pasangan dengan Attachment Avoidant:
-
Menghindari Percakapan Serius tentang Hubungan
Orang dengan attachment avoidant biasanya enggan membicarakan hubungan secara mendalam.
Mereka menjaga jarak emosional dan tidak nyaman mengungkapkan perasaan. Topik-topik sensitif dianggap berlebihan atau tidak perlu, karena mereka lebih fokus pada hal-hal yang logis dan praktis.
-
Cenderung Meremehkan Komitmen dalam Hubungan
Meskipun berada dalam hubungan, mereka kerap tidak menunjukkan penghargaan yang tulus terhadap kedekatan emosional.
Ini bisa dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil atau pola asuh tertentu yang membentuk persepsi bahwa kedekatan adalah ancaman, bukan kenyamanan.
-
Menolak Dukungan Emosional
Tipe ini sangat mengutamakan kemandirian. Ketergantungan pada orang lain dianggap sebagai kelemahan.
Oleh karena itu, mereka sering menolak bantuan atau dukungan dari pasangannya, meskipun sebenarnya mereka membutuhkannya.
-
Lebih Suka Menghabiskan Waktu Sendiri
Jika pasangan lebih memilih menghabiskan waktu sendiri atau bersama teman daripada bersama kamu, bisa jadi itu tanda adanya pola attachment avoidant.
Mereka merasa nyaman dengan kebebasan dan tidak ingin terlibat terlalu dalam secara emosional.
Memahami ciri-ciri ini adalah langkah awal untuk menjaga diri agar tidak terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara emosional.
Namun, penting juga untuk tidak terburu-buru memberi label. Setiap individu memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda yang membentuk gaya keterikatannya.
Catatan Penting:
Dalam hubungan yang sehat, diperlukan komunikasi yang terbuka, batasan yang jelas, dan kesadaran bersama tentang perasaan masing-masing.
Hubungan yang harmonis bukan tentang satu pihak yang selalu mengejar dan yang lain menjauh, melainkan tentang adanya saling pengertian dan keseimbangan dalam keterikatan. (Athanasia Zelda Pasaribu/magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 6Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 7Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 8Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar




