Akurat Logo

Salah Informasi dan Pentingnya Klarifikasi dalam Islam

Fahri Hilmi | 6 Desember 2023, 17:20 WIB
Salah Informasi dan Pentingnya Klarifikasi dalam Islam

AKURAT.CO Media pemberitaan tengah diramaikan dengan klarifikasi yang dilakukan calon wakil presiden nomor urut 02 Gibran Rakabuming Raka, yang mengoreksi dan meminta maaf atas kesalahan informasi saat menyebut asam folat sebagai asam sulfat.

Dalam kasus ini, asam folat yang dimaksud Gibran, baik untuk ibu hamil, justru disebut dengan asam sulfat yang merupakan zat kimia keras sebagai bahan pembuatan air aki. Gibran pun telah melakukan klarifikasi untuk membetulkan salah sebut yang dilakukannya.

Di sisi lain, memberikan informasi yang salah dapat disamakan dengan penyebaran hoaks atau berita bohong yang dampaknya sangat merugikan orang banyak. Terlebih jika perilaku tersebut dilakukan melalui media digital, di mana penyebarannya menjadi lebih cepat dan meluas.

Bahaya dari penyebaran informasi yang tidak valid atau hoaks sendiri dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 6 bahwa akibatnya dapat mendatangkan celaka bagi suatu kaum:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Ya ayyuhalladzîna âmanû in jâ'akum fâsiqum binaba'in fa tabayyanû an tushîbû qaumam bijahâlatin fa tushbiḫû ‘alâ mâ fa‘altum nâdimîn

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)

Baca Juga: 5 Artis Indonesia Dukung Israel Hingga Harus Klarifikasi, Ada Valencia Tanoe Hingga Tarra Budiman

Dilansir konsultasisyariah.com, klarifikasi merupakan langkah yang wajib dilakukan seseorang ketika salah memberikan keterangan atau informasi, di mana klarifikasi merupakan upaya untuk meluruskan fakta dan mencegah terjadinya kesalahpahaman di masyarakat.

Hal ini turut berlaku kepada seseorang yang melakukan penyebaran informasi tidak valid tersebut secara tidak sengaja atau karena ketidaktahuan.

Langkah klarifikasi ini pun harus diiringi dengan perasaan menyesal dan sikap tobat kepada Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 160 berikut:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَابُوْا وَاَصْلَحُوْا وَبَيَّنُوْا فَاُولٰۤىِٕكَ اَتُوْبُ عَلَيْهِمْۚ وَاَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Illalladzîna tâbû wa ashlaḫû wa bayyanû fa ulâ'ika atûbu ‘alaihim, wa anat-tawwâbur Rahim

Artinya: "Kecuali orang-orang yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya). Mereka itulah yang Aku terima tobatnya. Akulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 160)

Berdasarkan penjelasan tersebut maka memberikan klarifikasi terhadap kesalahan informasi merupakan langkah yang sudah seharusnya dilakukan seseorang, baik hal tersebut terjadi secara sengaja, tidak sengaja, ataupun karena ketidaktahuannya. 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Fahri Hilmi
W
Editor
Wahyu SK