Akurat

Humor Gus Dur: Beda Cak Nur dan Gus Dur dalam Membaca Buku

| 8 Februari 2022, 19:08 WIB
Humor Gus Dur: Beda Cak Nur dan Gus Dur dalam Membaca Buku

AKURAT.CO  KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur dikenal sebagai sosok yang kerap kali menyelipkan humor dalam aktivitasnya. Bahkan, humor-humor Gus Dur sering dilontarkan sebagai media kritik terhadap kondisi masyarakat, bangsa, dan negara, termasuk kehidupan umat beragama.

Dilansir dari NU Online, pada suatu waktu, setelah mengisi ceramah keagamaan dan kebangsaan, Gus Dur ditanya oleh salah satu wartawan. Kebetulan pada saat itu, mereka bersama dalam satu mobil menuju perjalanan pulang.

Usut punya usut, wartawan tersebut bertanya kepada Gus Dur soal kecerdasannya yang dikenal oleh masyarakat nasional. Bahkan, menurut wartawan itu, Gus Dur dikenal hingga ke internasional.

“Gus, rahasia Anda apa sih sampai bisa berpikir hebat?” tanya wartawan kepada Gus Dur.

"Ah, biasa aja,” kata Gus Dur diplomatis.

“Sungguh Gus, bahkan Cak Nur (Nurkholis Madjid), pemikir modern yang katanya bahan bacaannya ribuan buku, tapi ilmu sampeyan lebih lengkap darinya, berarti bacaan sampeyan lebih banyak lagi dong,” kata Ramdhani dengan polosnya.

"Baik, kalau anggapan sampeyan demikian,” tutur Gus Dur enteng.

“Lalu, apa rahasianya Gus?” ujar Ramdhani penasaran.

“Rahasianya, kalau Cak Nur membaca buku-bukunya hingga pengantarnya, kalau saya cukup daftar isinya saja,” seloroh Gus Dur sambil terkekeh.

Dalam kisah yang lain, pada era kepemimpinan Soeharto, beberapa kalangan mengkhawatirkan keselamatan Gus Dur, terutama sahabat-sahabatnya di Forum Demokrasi (Fordem). Saat itu, mereka salut dengan keberanian Gus Dur dalam melawan diskriminasi Orde Baru.

Hingga suatu ketika, wartawan senior Selamun Yoanes Bosco atau yang dikenal Don Bosco Selamun menceritakan pengalaman saat mewawancarai Presiden keempat RI tersebut. Rupanya, ia salut dengan keberanian Gus Dur di tengah ketakutan orang-orang di zaman itu.

“Gus, (dengan keberanian Anda) Anda ingin dikenang sebagai apa jika Tuhan memanggil kelak?” tanya Don Bosco Selamun.

“Tulis di batu nisan saya: di sini beristirahat seorang pejuang kemanusiaan sejati,” jawab Gus Dur dengan mantap.

“Ndak ingin dikenang sebagai tokoh Muslim yang hebat, Gus?” tanyanya lagi.

"Apa pentingnya?” Gus Dur balik bertanya.

"Atau dikenang sebagai pejuang demokrasi gitu, Gus?” Don Bosco Salamun kembali bertanya.

"Mungkin situ berpikir itu penting, tetapi bagi saya pejuang kemanusiaan saja. Cara saya, ya, demokrasi,” jawab Gus Dur.

“Demokrasi yang seperti apa, Gus?” tanya Don Bosco Salamun masih penasaran.

“Demokrasi yang tidak disukai Pak Harto. Gitu aja kok repot.” seloroh Gus Dur. []

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.