Akurat Logo

Premi Asuransi Energi Offshore Tugu Insurance Melonjak 75 Persen, Berkali-kali Lipat di Atas Industri

Idham Nur Indrajaya | 30 Oktober 2026, 22:36 WIB
Premi Asuransi Energi Offshore Tugu Insurance Melonjak 75 Persen, Berkali-kali Lipat di Atas Industri
Premi asuransi energi offshore Tugu Insurance tumbuh 75% pada 2026, jauh melampaui industri yang hanya naik 2,9%. - dok. Tugu Insurance

AKURAT.CO Pertumbuhan bisnis asuransi energi offshore di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Ketika industri secara keseluruhan hanya mencatat kenaikan premi sebesar 2,9% pada semester I-2026, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) justru membukukan pertumbuhan hingga 75%. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa peluang bisnis perlindungan sektor energi masih terbuka lebar di tengah meningkatnya aktivitas hulu minyak dan gas bumi (migas).

Lonjakan tersebut juga menempatkan Tugu Insurance dalam posisi yang menarik untuk dicermati. Sebagai perusahaan asuransi yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), perseroan memiliki pengalaman panjang dalam menangani risiko industri energi. Kondisi ini menjadi salah satu modal dalam menggarap kebutuhan perlindungan aset pada proyek-proyek migas, khususnya kegiatan operasional lepas pantai atau offshore.

Secara sederhana, premi asuransi energi offshore Tugu Insurance tumbuh sekitar 25,9 kali lipat dibandingkan tingkat pertumbuhan industri. Hingga Juni 2026, premi bruto perusahaan pada lini bisnis tersebut meningkat 75% secara tahunan, sedangkan industri asuransi energi offshore nasional hanya tumbuh 2,9% dengan total premi mencapai Rp932 miliar pada semester I-2026.

Capaian tersebut menjadi semakin relevan ketika aktivitas sektor hulu migas terus berkembang. Investasi bernilai besar, kompleksitas operasional, serta tingginya risiko keselamatan dan lingkungan membuat kebutuhan perlindungan asuransi menjadi bagian penting dalam pengelolaan proyek energi.

Premi Asuransi Energi Offshore Tugu Insurance Tumbuh 75%, Jauh di Atas Industri

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan bahwa premi asuransi energi offshore nasional mencapai Rp932 miliar pada semester I-2026. Nilai tersebut meningkat 2,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah pertumbuhan industri yang relatif terbatas tersebut, Tugu Insurance mencatatkan perkembangan yang jauh lebih tinggi. Perseroan membukukan pertumbuhan premi bruto asuransi energi offshore sebesar 75% hingga Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika kedua tingkat pertumbuhan tersebut dibandingkan, pencapaian Tugu Insurance sekitar 25,9 kali lipat dari pertumbuhan industri. Angka ini memberikan gambaran mengenai perbedaan laju perkembangan bisnis perusahaan dengan pasar asuransi energi offshore secara keseluruhan.

Meski demikian, perbandingan tersebut perlu dibaca secara proporsional. Pertumbuhan 75% tidak berarti nominal premi Tugu Insurance 25,9 kali lebih besar daripada total premi industri. Angka tersebut menunjukkan perbandingan tingkat pertumbuhan, bukan besaran pendapatan atau pangsa pasar.

Perbedaan laju pertumbuhan ini menarik karena menunjukkan bahwa perkembangan bisnis asuransi tidak selalu bergerak seragam. Dalam satu industri yang sama, perusahaan dapat mencatatkan pertumbuhan berbeda bergantung pada portofolio risiko, peluang bisnis, hubungan dengan nasabah, serta kapasitas dalam mengelola kebutuhan perlindungan.

Baca Juga: Tugu Insurance Raih 2 Penghargaan, Kinerja 3 Tahun Jadi Sorotan

Baca Juga: Prestasi Tugu Insurance di Sektor Energi, dari Proteksi Aset Pertamina hingga Market Leader Oil & Gas

Aktivitas Hulu Migas Meningkat, Apa Dampaknya terhadap Bisnis Asuransi Offshore?

Salah satu faktor yang membuat bisnis asuransi energi memiliki prospek positif adalah meningkatnya aktivitas sektor hulu migas. Kegiatan eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi membutuhkan investasi besar, termasuk pembangunan fasilitas dan penggunaan berbagai peralatan khusus untuk menunjang operasional.

Karakteristik tersebut membuat kebutuhan perlindungan aset menjadi penting. Berbeda dengan kegiatan usaha yang memiliki risiko operasional relatif terbatas, proyek hulu migas berhadapan dengan berbagai potensi kerugian yang dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan kegiatan produksi.

Pada kegiatan offshore, misalnya, operasional berlangsung di wilayah laut dengan dukungan fasilitas pengeboran, kapal, dan berbagai peralatan teknis. Kerusakan pada salah satu komponen penting dapat menimbulkan biaya perbaikan sekaligus mengganggu kelancaran kegiatan operasional.

Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan aset. Industri hulu migas juga memiliki eksposur terhadap kecelakaan kerja dan potensi dampak lingkungan yang membutuhkan perhatian khusus. Oleh sebab itu, perusahaan energi perlu mempertimbangkan perlindungan risiko sebagai bagian dari perencanaan investasi dan operasional.

Dudi Subekti selaku Corporate Secretary Tugu Insurance menyampaikan bahwa karakteristik industri hulu migas membuat perlindungan asuransi memiliki peran penting dalam mitigasi risiko. Menurutnya, besarnya nilai investasi dan kompleksitas kegiatan operasional menjadi alasan utama kebutuhan tersebut.

“Sektor hulu migas memiliki karakteristik investasi bernilai besar dengan proses operasional yang kompleks serta risiko keselamatan dan lingkungan yang tinggi. Oleh karena itu, perlindungan asuransi menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko industri tersebut, mulai dari potensi kecelakaan kerja, kerusakan peralatan, hingga risiko dampak lingkungan,” ujar Dudi melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Jumat, 30 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan asuransi energi tidak hanya berkaitan dengan penggantian kerugian ketika terjadi insiden. Perlindungan juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mengelola eksposur risiko agar gangguan terhadap kegiatan bisnis dapat diantisipasi dengan lebih baik.

Mengapa Bisnis Asuransi Energi Menjadi Peluang bagi Tugu Insurance?

Sebagai anak usaha PT Pertamina (Persero), Tugu Insurance memiliki keterkaitan dengan ekosistem industri energi nasional. Pengalaman dalam menangani risiko sektor migas menjadi salah satu modal perusahaan untuk mengembangkan bisnis perlindungan pada industri yang membutuhkan pemahaman khusus terhadap karakteristik operasional.

Pengalaman tersebut juga tidak terbatas pada kegiatan hulu migas. Tugu Insurance memiliki rekam jejak dalam menangani risiko marine hull atau perlindungan kapal, serta aviation yang berkaitan dengan sektor penerbangan. Kedua lini tersebut memiliki karakteristik risiko yang membutuhkan pengelolaan khusus.

Keterlibatan dalam berbagai lini bisnis tersebut relevan dengan kebutuhan industri energi yang melibatkan banyak jenis aset dan aktivitas pendukung. Dalam proyek offshore, misalnya, kegiatan operasional dapat melibatkan fasilitas produksi, kapal pendukung, peralatan teknis, hingga mobilisasi sumber daya manusia.

Dudi mengatakan pengalaman perusahaan dalam menangani risiko komersial, kebakaran, dan industri energi menjadi salah satu keunggulan untuk mendukung kebutuhan perlindungan sektor energi nasional.

“Kami memiliki rekam jejak yang kuat di lini bisnis ini, serta fokus pada pengelolaan risiko komersial, kebakaran, dan industri energi. Hal tersebut menjadi keunggulan kami dalam mendukung kebutuhan proteksi sektor energi nasional,” ujar Dudi.

Pengalaman tersebut dapat menjadi modal dalam memahami karakteristik risiko calon nasabah. Dalam bisnis asuransi energi, pemahaman terhadap aktivitas operasional menjadi penting karena setiap proyek dapat memiliki profil risiko, nilai aset, serta kebutuhan perlindungan yang berbeda.

Namun, pengalaman dan keterkaitan dengan ekosistem energi bukan berarti seluruh peluang bisnis otomatis dapat dikonversi menjadi premi. Perusahaan asuransi tetap perlu mempertimbangkan karakteristik risiko, kemampuan pengelolaan eksposur, dan keberlanjutan portofolio bisnis.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.