Akurat Logo

Survei HSBC: Dari Rekonsiliasi Invoice hingga Pembayaran, Begini AI Mengubah Pekerjaan Tim Keuangan

Idham Nur Indrajaya | 29 Oktober 2026, 19:41 WIB
Survei HSBC: Dari Rekonsiliasi Invoice hingga Pembayaran, Begini AI Mengubah Pekerjaan Tim Keuangan
AI membantu tim keuangan mengolah invoice, mempercepat rekonsiliasi, dan mendukung pembayaran. Simak pengalaman perusahaan dan survei HSBC. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Mengelola keuangan perusahaan bukan sekadar menghitung uang masuk dan keluar. Tim keuangan juga harus mengumpulkan invoice dari berbagai pihak, memeriksa kesesuaian dokumen, mencocokkan transaksi, memantau saldo rekening, hingga memastikan pembayaran dilakukan sesuai jadwal. Ketika informasi tersebar di banyak dokumen dan sistem, pekerjaan tersebut dapat menyita waktu serta meningkatkan risiko kesalahan pencatatan.

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan tersebut. Teknologi ini dapat membantu menstandarkan dokumen dengan format berbeda, mengolah informasi transaksi, dan mempercepat penyusunan laporan. Integrasi sistem juga memungkinkan data keuangan mengalir lebih efisien dari pencatatan hingga pemrosesan pembayaran.

Pengalaman Shipper Group dan ATIC Group menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu mengurangi pekerjaan manual dalam pengolahan dokumen dan data keuangan. Perubahan tersebut sejalan dengan temuan survei HSBC dalam laporan Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026. Sebanyak 84% responden Indonesia menilai AI akan sangat atau amat bermanfaat bagi fungsi treasury dalam tiga tahun mendatang.

Meski demikian, penerapan AI tidak cukup hanya dengan memasang perangkat lunak baru. Kualitas data, integrasi dengan sistem yang sudah digunakan, keamanan informasi, dan pengawasan manusia tetap menentukan keberhasilan implementasinya.

Bagaimana AI Mengubah Pekerjaan Tim Keuangan?

AI membantu tim keuangan mengolah dokumen, menstandarkan informasi transaksi, mendukung rekonsiliasi, dan mempercepat analisis laporan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan pengumpulan serta pemindahan data secara manual berpotensi menjadi lebih efisien. Namun, pemeriksaan transaksi, penanganan ketidaksesuaian, dan keputusan pembayaran tetap membutuhkan aturan yang jelas serta validasi manusia.

Baca Juga: HSBC Sebut 'Anti-AI Trade' Bisa Bawa Dana Asing Kembali ke Pasar Saham Indonesia

Baca Juga: Jelang Keputusan MSCI, HSBC Ungkap Masalah Free Float Saham Indonesia

Dari Tumpukan Invoice hingga Rekonsiliasi Transaksi

Salah satu pekerjaan yang menyita waktu tim keuangan adalah menangani dokumen dari banyak pelanggan, pemasok, dan penyedia layanan. Masing-masing pihak dapat menggunakan format invoice, informasi pembayaran, serta sistem pencatatan yang berbeda.

Tim keuangan harus memastikan informasi penting seperti nomor invoice, nilai transaksi, tanggal, identitas pihak terkait, dan status pembayaran tercatat dengan benar. Setelah itu, data perlu dicocokkan dengan dokumen pendukung atau transaksi yang tercatat di sistem perusahaan.

Proses menjadi lebih rumit ketika informasi harus dipindahkan secara manual dari dokumen ke spreadsheet atau aplikasi akuntansi. Perbedaan format dapat membuat staf perlu menyesuaikan data satu per satu sebelum melakukan rekonsiliasi.

AI dapat membantu mengurangi pekerjaan berulang tersebut melalui pemrosesan dokumen dan pengolahan informasi. Bergantung pada kemampuan sistem yang digunakan, teknologi ini dapat membantu membaca informasi dari dokumen, mengelompokkan data, menstandarkan format, dan menandai bagian yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sebagai contoh, perusahaan menerima ratusan invoice dengan susunan informasi berbeda. Sistem berbasis AI dapat membantu mengekstraksi data yang relevan dan menyajikannya dalam format yang lebih seragam. Tim keuangan kemudian dapat menggunakan informasi tersebut untuk mencocokkan tagihan dengan catatan transaksi.

Namun, hasil ekstraksi tidak selalu benar. Dokumen yang buram, informasi yang tidak lengkap, atau penulisan yang tidak konsisten tetap dapat menimbulkan kesalahan. Karena itu, hasil pemrosesan perlu diperiksa, terutama ketika terdapat perbedaan nilai, nomor dokumen, atau identitas penerima pembayaran.

Rekonsiliasi juga tidak sama dengan sekadar membaca invoice. Proses ini memerlukan pencocokan informasi berdasarkan catatan transaksi, dokumen pendukung, dan aturan perusahaan. AI dapat membantu menemukan ketidaksesuaian, tetapi penentuan apakah perbedaan tersebut dapat diterima atau perlu ditindaklanjuti tetap bergantung pada konteks transaksi dan kontrol yang diterapkan.

Pengalaman Shipper Group: Menstandarkan Dokumen untuk Mempercepat Pembayaran

Bagi perusahaan logistik seperti Shipper Group, pengolahan informasi keuangan berkaitan dengan banyak aktivitas operasional. Perusahaan yang bergerak di bidang pergudangan hingga pengiriman dapat berhadapan dengan berbagai pelanggan dan penyedia layanan yang memiliki dokumen serta format informasi berbeda.

Leonard Pontoh, CFO Shipper Group, membahas pemanfaatan AI untuk membantu menstandarkan informasi yang berasal dari dokumen berbeda. Data yang sebelumnya perlu diperiksa dan disesuaikan dapat dirangkum ke dalam laporan yang lebih seragam.

“AI membantu kami menstandarkan informasi yang formatnya berbeda-beda, termasuk dokumen pembayaran dan invoice dari berbagai penyedia layanan. Informasi tersebut kemudian bisa dirangkum ke dalam laporan yang lebih standar sehingga proses rekonsiliasi dan pembayaran menjadi lebih cepat," ujar Leonard dalam media briefing HSBC di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa salah satu manfaat AI bukan hanya menghasilkan analisis yang lebih kompleks, melainkan membantu menyiapkan data agar dapat digunakan secara konsisten.

Ketika informasi invoice telah tersusun dalam format yang seragam, tim keuangan lebih mudah menelusuri transaksi, memeriksa dokumen pendukung, dan mengidentifikasi data yang belum sesuai. Proses ini dapat mendukung rekonsiliasi sebelum pembayaran diproses.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kecepatan pekerjaan. Standardisasi juga dapat membantu mengurangi kebutuhan memasukkan informasi yang sama berulang kali, meskipun manfaat akhirnya tetap bergantung pada kualitas sistem dan proses pemeriksaan yang diterapkan perusahaan.

Leonard juga menekankan pentingnya menentukan prioritas ketika perusahaan menerapkan teknologi. Menurutnya, proses implementasi perlu dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang paling membutuhkan penyelesaian, kemudian melibatkan departemen terkait.

“Biasanya kami memulai dengan mengidentifikasi masalah yang paling membutuhkan solusi, kemudian berdiskusi dengan departemen terkait untuk menentukan prioritas dan tahapan implementasinya.”

Pendekatan bertahap tersebut penting karena kebutuhan tim keuangan tidak selalu sama dengan kebutuhan tim operasional atau teknologi. Perusahaan perlu memastikan solusi yang dikembangkan benar-benar menjawab persoalan kerja, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.

Tim operasional dapat membantu menjelaskan alur dokumen dan transaksi, sementara tim teknologi menyiapkan integrasi serta pengaturan akses. Tim keuangan kemudian memastikan hasil pengolahan data sesuai dengan kebutuhan pencatatan dan pengendalian transaksi.

ATIC Group: Menghubungkan Data untuk Mempermudah Pelaporan Keuangan

Tantangan lain muncul ketika informasi keuangan tersebar di berbagai aplikasi dan sistem perbankan. Staf mungkin harus masuk ke portal bank untuk memeriksa saldo atau transaksi, lalu memindahkan informasi tersebut ke laporan internal.

Proses itu membutuhkan waktu, terutama jika perusahaan harus memeriksa banyak rekening atau menggabungkan data dari sejumlah sumber. Risiko kesalahan input juga meningkat ketika informasi yang sama harus dipindahkan secara manual.

Minto Hartati, Head of Finance ATIC Group (PT Anabatic Technologies Tbk), membahas pemanfaatan teknologi untuk membantu pengolahan data dan penyusunan laporan keuangan. Informasi dari sistem yang sudah digunakan perusahaan dapat diolah agar lebih mudah dimanfaatkan untuk kebutuhan pelaporan.

“AI membantu kami mengolah data dari sistem yang sudah ada dan menyajikannya sesuai kebutuhan laporan. Dengan begitu, informasi yang sebelumnya harus dikumpulkan dan diolah secara manual bisa dimanfaatkan dengan lebih efisien.”

Pemanfaatan teknologi dalam proses ini dapat membantu tim keuangan mengurangi pekerjaan administratif yang berulang. Data yang sudah tersusun dengan baik juga lebih mudah digunakan untuk menyiapkan laporan pembayaran, pajak, audit, dan kebutuhan internal lainnya.

Meski demikian, penting untuk membedakan AI dari integrasi sistem biasa. Menghubungkan dua aplikasi agar data dapat berpindah secara otomatis merupakan fungsi integrasi. Menggunakan aturan tertentu untuk memindahkan atau mengategorikan transaksi termasuk otomatisasi berbasis aturan. AI memiliki fungsi berbeda ketika digunakan untuk membantu mengenali pola, mengolah informasi, atau menghasilkan analisis berdasarkan data.

Dalam praktiknya, ketiga kemampuan tersebut dapat saling melengkapi. Integrasi menyediakan aliran informasi, otomatisasi menangani proses rutin, sedangkan AI dapat membantu pekerjaan yang membutuhkan pengolahan atau analisis lebih lanjut.

Perusahaan perlu memahami perbedaan tersebut agar tidak menganggap setiap proses digital sebagai penggunaan AI. Pemahaman yang tepat juga membantu perusahaan menentukan teknologi mana yang benar-benar dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah operasionalnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.