Akurat Logo

PMI Manufaktur RI Tembus 52,4, Menkeu Sua Ungkap 4 Pendorongnya

Andi Syafriadi | 10 Oktober 2026, 09:50 WIB
PMI Manufaktur RI Tembus 52,4, Menkeu Sua Ungkap 4 Pendorongnya
Ilustrasi Manufaktur - Source: Pinterest

AKURAT.CO Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada September 2026 dengan mencatatkan angka 52,4.

Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan empat faktor yang mendorong peningkatan aktivitas industri tersebut, mulai dari menguatnya permintaan hingga melandainya tekanan harga.

Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat, Suahasil menjelaskan bahwa peningkatan permintaan menjadi faktor pertama yang mendorong aktivitas produksi manufaktur.

Baca Juga: Kemenperin Targetkan Industri Manufaktur Kembali Jadi Motor Ekonomi

“Permintaan dalam negeri menguat, artinya ini menjadi indikasi akan memproduksi barang dan jasa lebih banyak, makanya indeks PMI-nya naik,” kata Suahasil.

Faktor kedua adalah peningkatan jumlah tenaga kerja dan bertambahnya pesanan yang belum diselesaikan atau backlog. Kedua indikator itu menunjukkan bahwa kebutuhan untuk memenuhi pesanan masih meningkat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu sinyal aktivitas produksi yang lebih sibuk. Namun, besarnya dampak terhadap output industri secara keseluruhan tetap perlu dilihat bersama data produksi dan realisasi pesanan.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Menguat, PMI Manufaktur Tembus 52,4 pada September 2026

Faktor ketiga adalah meningkatnya pembelian dan persediaan bahan baku. Menurut Suahasil, kondisi itu terjadi ketika stok barang jadi menurun, sedangkan indeks waktu pengiriman relatif tidak berubah.

Peningkatan pembelian bahan baku dapat menunjukkan bahwa pelaku industri sedang menyiapkan kebutuhan produksi. Meski demikian, kenaikan stok input tidak serta-merta berarti seluruh persediaan akan langsung berubah menjadi barang jadi atau penjualan.

Faktor keempat adalah melandainya tekanan harga. Suahasil menyebut kenaikan harga bahan baku dan harga produk keluaran mengalami perlambatan, meskipun tekanan biaya masih berpotensi memengaruhi kegiatan manufaktur ke depan.

“Tekanan harga relatif melandai. Harga input ada melandai dikit, harga output juga nggak melandai. Tapi imbangan ini direspons oleh pengusaha dengan melakukan pembelian dan stok input yang meningkat,” ujarnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.